tradisi sunat bambu

Sifon, Tradisi Sunat Bambu yang Berisiko bagi Kesehatan

  • Maret 4, 2021

Sifon adalah tradisi sunat bambu yang dianut oleh suku Atoni Meto, yang menempati daerah Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Jika umumnya sunat dilakukan pada usia masih anak-anak, sifon justru dilakukan saat seorang laki-laki menginjak usia 18 tahun. Sifon sendiri sebenarnya adalah sebuah ritual di mana lelaki yang baru disunat melakukan hubungan seksual yang dipercaya untuk menyembuhkan luka sunat serta membuang penyakit dan sial. Sifon biasanya dilaksanakan pada musim panen dan menghabiskan waktu selama tiga minggu sampai satu bulan.

Secara umum, prosedur sunat tradisional dalam tradisi sifon tidak jauh berbeda dengan sunat pada umumnya. Dinamakan sunat bambu karena alat yang digunakan yaitu bambu dan dilakukan seorang mantri yang disebut atlet. Lelaki yang akan disunat diminta oleh atlet untuk berendam di sungai mengalir agar ketika disunat tubuhnya tak mengeluarkan terlalu banyak darah. Kemudian atlet akan menarik kulup penis dan disayat dengan batang bambu yang sudah diruncingkan. Setelah itu, luka pada penis akan dibalut dengan daun kom yang digunakan untuk mengawetkan mayat. Untuk mengganti darah yang keluar, atlet akan meminta si lelaki meminum darah ayam yang telah dicampur dengan air kelapa.

Namun, dalam pelaksanaan sifon ataupun sunat bambu, ada risiko kesehatan yang dibalik metode maupun prosedurnya.

Infeksi Alat Kelamin

Jika melihat alat dan prosedur yang digunakan, sunat bambu merupakan tindakan yang tidak steril dan tidak memenuhi standar medis. Bambu yang diruncingkan untuk menyayat kulup penis bisa terpapar oleh bakteri dan kuman dari lingkungan sekitar. Bambu juga berbahaya jika menjadi pecahan tajam sehingga bisa merobek atau mencederai kulit kelamin. Selain itu, bambu tersebut juga kemungkinan memiliki kandungan yang bisa berbahaya bagi alat kelamin. Akibatnya, sunat bambu akan meningkatkan risiko iritasi, infeksi bakteri, atau infeksi jamur.

Setelah sunat bambu, atlet hanya akan menutup luka penis dengan daun alih-alih menggunakan perban atau dijahit. pun, tidak ada obat-obatan khusus yang diberikan untuk mencegah infeksi. Hal ini bisa berisiko si lelaki akan kehilangan banyak darah dan menyebabkan rasa nyeri yang berkepanjangan. Belum lagi risiko lainnya seperti matinya jaringan di sekitar penis akibat kehilangan suplai darah, dehidrasi, gagal ginjal, hingga kematian.

Penularan Penyakit Seksual

Ritual kemudian ditutup dengan hubungan seksual Bersama perempuan asing yang tidak memiliki hubungan keluarga atau kerabat dengan si lelaki. Menurut para lelaki yang telah melakukan sifon, setelah disunat menggunakan sunat bambu penis mereka membengkak dan berair. Meski sulit untuk melakukan penetrasi ke vagina, rasa sakit dan bengkak akan pecah di dalam vagina. Setelahnya, semua bengkak dan luka setelah sunat bambu akan sembuh total pasca sifon.

Oleh karena itu, perempuan yang ikut dalam ritual sifon harus yang sudah pernah melakukan hubungan seksual, sehingga tidak mengalami kesulitan saat proses sifon. Biasanya perempuan yang melakukan sifon setelah sunat bambu kebanyakan adalah janda dan perempuan tua yang ditinggal suaminya. Namun, dalam perkembangannya, tradisi sifon menggunakan perempuan pekerja seks komersial (PSK).Karena luka sunatnya tidak steril, luka tersebut bisa berkembang menjadi infeksi yang bisa mengakibatkan kerusakan jaringan pada penis. kemudian, hubungan seksual yang harus dilakukan segera setelah sunat bambu akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit menular seksual, seperti sifilis, gonore, bahkan HIV baik bagi lelaki maupun perempuan. Terlebih jika sifon dilakukan dengan perempuan yang bekerja melakukan hubungan seksual ke orang yang berbeda.

Submit A Comment

Must be fill required * marked fields.

:*
:*