Kram Perut saat Hamil, Apakah Perlu Pergi ke Dokter?

  • Februari 4, 2021

Masa kehamilan merupakan waktu yang paling ditunggu-tunggu. Wajar apabila muncul kekhawatiran akan kesehatan ibu dan janin, termasuk kram perut saat hamil. Pasalnya, Anda tak perlu cemas berlebihan sebab kram perut merupakan hal yang normal terjadi saat kehamilan. Meskipun demikian, terdapat beberapa tanda dan gejala yang perlu diwaspadai berkaitan dengan bahaya yang mungkin terjadi. 

Kram perut saat hamil, normal atau tidak?

Kram perut wajar terjadi saat kehamilan, biasanya terjadi di awal kehamilan atau selama 12 minggu pertama. Hal tersebut disebabkan kondisi rahim yang membesar menyesuaikan pertumbuhan janin, ligamen meregang, serta terjadinya sembelit atau kembung. Rasanya mirip dengan nyeri haid ringan. Kram perut umumnya akan hilang saat ibu mengubah posisi, istirahat, BAB, atau buang angin. 

Kapan Anda perlu khawatir?

Penting bagi ibu untuk menggunakan naluri dalam merasakan rasa sakitnya. Terlebih jika sakit perut terus menerus berlangsung dan tidak kunjung sembuh. Berikut ini beberapa risiko perlu diketahui berkaitan dengan kram perut hebat saat hamil:

  1. Kehamilan etopik

Nyeri parah di sisi perut bagian bawah saat awal kehamilan mungkin jadi pertanda kehamilan etopik. Kondisi ini disebabkan telur yang telah dibuahi tidak menempel di rahim, namun di tuba falopi, rongga perut, atau leher rahim. Kemudian timbulan rasa nyeri di perut. Tanda dan gejala lainnya seperti:

  • Pendarahan
  • Nyeri di ujung bahu
  • Keputihan berwarna coklat
  • Pusing bahkan ingin pingsan
  • Ketidaknyamanan saat buang air besar atau kecil

Apabila kram perut tidak kunjung berhenti selama beberapa jam disertai atau tanpa disertai pendarahan, maka segera pergi ke dokter untuk mengantisipasi kemungkinan buruk yakni keguguran. 

  1. Solusio plasenta

Kondisi ini terjadi karena plasenta lepas dari dinding rahim terlalu dini. Akibatnya, bayi tidak mendapatkan cukup oksigen dan nutrisi. Tanda dan gejala yang terjadi antara lain: 

  • Pendarahan 
  • Rasa tidak nyaman
  • Kram perut atau nyeri punggung tiba-tiba
  • Perut terasa lebih lunak saat disentuh

Solusio plasenta akan semakin memburuk jika tidak ditangani secepatnya. Umumnya terjadi pada kehamilan trimester ketiga menjelang waktu persalinan. 

  1. Pre-eklampsia

Pre-eklampsia terjadi ketika tekanan darah tinggi dan adanya protein di dalam urin selama atau setelah kehamilan. Pre-eklampsia saat hamil mempunyai tanda dan gejala seperti:

  • Sakit kepala terus menerus
  • Pembengkakan tidak bormal di tangan dan wajah
  • Pandangan berubah
  • Kenaikan berat badan tiba-tiba
  • Sakit perut bagian kanan atas

Kondisi ini biasanya terjadi di sekitar trimester kedua kehamilan atau di minggu ke-20. 

  1. Kelahiran prematur

Kontraksi perut yang menyakitkan secara teratur saat usia janin sebelum memasuki 37 minggu, bisa jadi pertanda kelahiran prematur. Berikut ini tanda dan gejalanya:

  • Munculnya cairan bening atau merah muda lebih banyak dari biasanya
  • Sakit punggung yang tidak wajar
  • Kram perut seperti saat menstruasi
  • Rasa tertekan pada perut bagian bawah
  • Keluarnya gumpalan darah dari vagina

Periksakan ke dokter sesegera mungkin. Tanda dan gejala di atas juga tidak selalu menandakan keguguran, namun pemeriksaan tetap harus dilakukan untuk memastikan kondisi ibu dan janin baik-baik saja

Bisa jadi hanya kontraksi palsu

Kontraksi palsu atau kontraksi Braxton Hicks merupakan pertanda otot rahim menebal. Umumnya terjadi pada usia kehamilan trimester kedua atau ketiga. Semakin mendekati persalinan, kontraksi palsu juga lebih sering terjadi. Kontraksi palsu merupakan jenis kram perut ringan yang hilang timbul. Oleh karena itu, Anda tidak perlu terlalu khawatir saat mengalami kram perut dengan ciri-ciri tersebut. 

Submit A Comment

Must be fill required * marked fields.

:*
:*