Typhus

  • Juni 3, 2020
Typhus adalah gangguan medis yang disebabkan oleh bakteri Rickettsia, sedangkan demam tifoid adalah gangguan medis yang disebabkan oleh bakteri Salmonella.

Typhus bukan berarti tipes atau demam tifoid. Kedua penyakit tersebut merupakan penyakit yang berbeda. Typhus adalah gangguan medis yang disebabkan oleh bakteri Rickettsia, sedangkan demam tifoid adalah gangguan medis yang disebabkan oleh bakteri Salmonella.

Gejala Typhus
Pada umumnya, bakteri penyebab typhus disebarkan oleh kutu. Kutu-kutu ditemukan pada kucing, tikus, atau tupai. Hal tersebut bisa berpotensi menular ke manusia. Orang-orang yang mengalami gangguan seperti ini akan mengalami gejala berupa demam, badan menggigil, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan bernafas dengan cepat.

Gejala akibat typhus muncul pada 10 hari hingga 2 minggu setelah bakteri Rickettsia masuk ke tubuh manusia. Beberapa hari setelah mengalami gejala di atas, manusia juga menunjukkan ruam kemerahan yang menyebar dari dada hingga ke seluruh tubuh. Selain itu, orang juga dapat menunjukkan tanda bercak kehitaman akibat gigitan kutu.

Penyebab Typhus
Secara keseluruhan, typhus disebabkan oleh bakteri Rickettsia prowazekii, Rickettsia typhi, atau Orientia tsutsugamushi. Bakteri-bakteri tersebut hidup pada kutu jenis flea, louse, dan chiggers.

Jenis Typhus
Berdasarkan bakteri dan kutu penyebab bakteri, typhus terdiri dari 3 jenis, antara lain:

  • Epidemic typhus

Epidemic typhus atau louse-borne typhus disebabkan oleh bakteri Rickettsia prowazekii yang terdapat pada kutu louse. Penyakit tersebut dapat membuat seseorang merasa kambuh setelah gejala lama tidak muncul. Selain itu, jenis typhus ini muncul di daerah yang terdapat banyak penduduk.

  • Murine typhus

Murine typhus atau flea-borne typhus disebabkan oleh Rickettsia typhi yang terdapat pada kutu pinjal atau flea. Jenis typhus ini sering ditemukan di daerah tropis atau subtropis.

  • Scrub typhus

Scrub typhus atau bush typhus disebabkan oleh bakteri Orientia tsutsugamushi yang terdapat pada kutu jenis chiggers. Jenis typhus ini pada umumnya ditemukan di daerah pedesaan di Tiongkok, India, Jepang, dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Gigitan kutu dapat membuat kulit manusia terluka dan terasa gatal. Ketika manusia menggaruk bagian kulit tersebut, tinja berisi bakteri akan semakin mendalam hingga ke darah dan dapat menyebabkan manusia mengalami penyakit typhus.

Tidak semua kutu memiliki reaksi yang sama pada kulit manusia. Kutu pembawa bakteri Orientia memang membuat seseorang mengalami typhus dan membuat kulit terasa gatal, namun tidak separah bakteri lain sehingga membuat mereka menggaruk bagian kulit yang terkena gigitan tersebut.

Selain itu, bakteri penyebab typhus juga dapat masuk melalui tinja kutu yang masuk melalui mata ketika manusia menggosok mata dengan tangan yang terkontaminasi bakteri tersebut. Oleh karena itu, manusia perlu waspada akan hal tersebut.

Diagnosis
Jika Anda terkena penyakit typhus, Anda sebaiknya periksa diri ke dokter. Dokter akan melakukan diagnosis terlebih dahulu. Diagnosis penyakit typhus melibatkan pemeriksaan tubuh dan pertanyaan-pertanyaan tentang gejala yang dialami pasien.

Jika dokter merasa bahwa Anda terkena penyakit typhus, dokter akan melakukan tes penunjang berupa:

  • Pemeriksaan imunitas

Antibodi biasanya akan muncul pada beberapa minggu setelah manusia terkena infeksi bakteri penyebab typhus. Oleh karena itu, dokter akan melakukan pengobatan, bahkan sebelum memperoleh hasil tes darah.

  • Biopsi

Cara tersebut dilakukan melalui pemeriksaan sampel kulit pada ruam di kulit. Setelah mengambil sampel, sampel tersebut akan diuji di laboratorium.

  • Imunofluoresensi

Imunofluoresensi adalah cara lain yang dapat dilakukan. Cara tersebut melibatkan pewarna fluoresen untuk mendeteksi antigen typhus dalam sampel serum darah pasien.

Cara Mengobati Typhus
Untuk mengobati typhus, obat yang perlu digunakan adalah obat antibiotik. Antibiotik adalah obat yang cocok untuk melawan bakteri di dalam tubuh. Obat antibiotik perlu digunakan sesuai anjuran dokter.

Sampai saat ini, belum ada vaksin yang dapat mengatasi typhus. Oleh karena itu, Anda perlu melakukan beberapa langkah sebagai berikut:

  • Memakai baju berlengan panjang dan celana panjang.
  • Gunakan semprotan serangga.
  • Ganti dan cuci pakaian secara rutin.
  • Rajin membersihkan tubuh.
  • Hindari kontak langsung dengan kucing, tikus, atau tupai.
  • Menjaga kebersihan di sekitar lingkungan.

Waspadai Parestesia yang Dapat Menyerang Pengidap Diabetes

  • April 28, 2020

Pernahkah Anda merasa sensasi seperti digelitik, ditusuk-tusuk oleh jarum, kebas atau mati rasa, dan kesemutan, setelah menghabiskan waktu yang lama untuk duduk dalam posisi tertekuk. Hal ini juga dapat terjadi ketika Anda tertidur dengan posisi bertumpukan lengan. Kondisi kesemutan tersebut disebut sebagai parestesia.

Parestesia adalah kondisi yang dapat menyebabkan seseorang merasa kesemutan sesaat. Kondisi ini disebabkan oleh tekanan pada saraf. Ketika Anda memutuskan berubah posisi, kesemutan tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Namun, jika kondisi parestesia ini berlangsung secara terus-menerus dan enggan menghilang, ia dapat menjadi tanda bahwa terdapat gangguan kesehatan yang Anda alami. Ada pun kelompok yang rentan mengalami kondisi ini adalah para pengidap diabetes.

Dalam kasus pengidap diabetes, parestesia disebabkan karena kadar glukosa dalam darah yang terlalu tinggi. Kondisi ini dapat berakibat merusak pembuluh darah, sehingga pembuluh darah tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya, terutama dalam hal menyalurkan nutrisi yang dibutuhkan oleh saraf. Pada akhirnya, serat-serat saraf akan mengalami kerusakan.

Kondisi diabetes yang tidak dapat dikontrol, dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah pasien. Awalnya, pembuluh darah paling kecil dan saraf-saraf terluang akan rusak terlebih dulu. Parestesia yang dialami oleh pengidap diabetes biasanya dirasakan mulai dari ujung jari-jari kaki dan tangan.

Hal ini tentu membawa kekhawatiran jika terjadi lecet atau luka pada bagian kaki. Pasien tidak akan menyadari rasa sakit tersebut karena telah mati rasa. Jika lecet atau luka tersebut tidak segera diatasi, khawatir memicu terjadinya ulkus kaki diabetik yang hanya dapat ditangani dengan prosedur medis tertentu.

Bukan hal yang tidak mungkin bahwa pengidap diabetes dapat terbebas dari kondisi parestesia. Hal yang perlu dilakukan adalah mengatur kadar glukosa dalam darah. Selain itu, mengatur pola makan dan rutin melakukan olahraga juga dapat membantu menurunkan kadar gula dalam darah, seperti yang disarankan oleh dokter.

Alternatif lain untuk mengatasi kondisi parestesia adalah dengan melakukan pijat agar rasa tidak nyaman pada kaki dapat dikurangi.

Kisah Menarik Tentang Manusia Raksasa di Dunia

  • Maret 26, 2020

Apakah Anda pernah mendengar kisah tentang manusia raksasa? Kisah ini memang benar ada dan termasuk dalam kasus penyakit langka yaitu gigantisme. Dengan adanya manusia raksasa pasti menarik perhatian dunia, karena manusia raksasa ini memiliki postur tubuh yang di atas rata-rata. Simak ulasan berikut ini untuk mengetahui beberapa kisah nyata manusia raksasa di dunia.

  • Bernard A. Coye

Kisah pertama datang dari Bernard A. Coye yang merupakan seorang pria yang lahir pada 27 Juli 1897. Akibat gigantisme, tinggi badannya mencapai 2,48 meter. Bernard A. Coye menjadi salah satu pemecah rekor karena tingginya lebih dari 8 kaki. Di dunia ini hanya ada sekitar 17 orang yang tubuh dengan tinggi lebih dari 8 kaki.

Karena penyakitnya ini, Bernard A. Coye tidak dapat bertahan lama. ia meninggal dunia di usia 23 tahun, tepatnya di bulan Mei tahun 1921. Bernard A. Coye mengalami komplikasi pengerasan hati dan demam kelenjar.

  • Sandy Allen

Selanjutnya ada wanita tertinggi di dunia, Sandy Allen. Guinness World of Record pernah mencatat Namanya sebagai wanita tertinggi di dunia. Tinggi Sandy Allen sekitar 7 kaki 7 inci atau sekitar 2,31 meter. Akibat gigantisme yang dideritanya, Sandy Allen tumbuh sangat tinggi, namun konsekuensinya tulangnya yang besar menimbulkan banyak masalah kesehatan seperti infeksi, diabetes, gagal ginjal, hingga masalah pernapasan. Sandy Allen meninggal di usia 53 tahun.

  • John Carrol

Saat googling naam John Carrol, ada banyak yang menjulukinya sebagai “ The Giant of South Buffalo”. John Carrol lahir pada tahun 1932 dan meninggal di usia 37 tahun. Masalah yang diderita John Carrol adalah pada tulang belakangnya, yang melengkung parah karena tubuh raksasanya. Akibatnya, tubuhnya cenderung membungkuk. Ada yang menyebut bahwa jika dia tidak membungkuk, tinggi badannya bisa mencapai 2,74 meter atau 9 kaki.

Deteksi sejak dini

Tanda-tanda gigantisme seperti rahang dan dahi menonjol hingga ukurang tangan dan kaki luar biasa besar bisa dideteksi sejak dini. Gejalanya bisa terlihat secara fisik hingga masalah seperti insomnia, puber tertunda, dan kelelahan.

Kenali Gejala Keracunan Sianida Berikut Ini

  • Maret 4, 2020

Pada tahun 2016 lalu, publik dibuat heboh oleh kasus pembunuhan di sebuah kafe ternama di Jakarta. Korban tewas seketika setelah menegak es kopi Vietnam. Kejadian ini dicurigai akibat keracunan sianida. Perlu Anda tahu, sianida adalah senyawa kimia yang mengandung ikatan karbon nitrogen (CN). Sianida bisa ditemukan dapat ditemukan dalam berbagai makanan nabati yang umum dan aman dikonsumsi, seperti kacang almond, bayam, dan kacang kedelai. Bahkan sianida merupakan hasil metabolisme tubuh yang dikeluarkan melalui pernapasan. Namun, sianida yang baru saja disebut tidak beracun.

Sianida yang beracun dan mematikan adalah natrium sianida, kalium sianida, hydrogen sianida, dan sianogen klorida. Semua ini dapat Anda temukan dalam bentuk padat, gas, atau pun cair. Beberapa sumber sianida beracun yaitu asap kebakaran, industri yangmemakai sianida seperti fotografi, plastic, sintetis, pemrosesan logam, elekroplating, biji buah apricot, singkong, dan asap rokok. Keracunan akibat konsumsi singkong atau kacang almond baru akan terjadi jika Anda sering mengonsumsinya, dan dikonsumsi dalam jumlah yang sangat banyak.

Gejala keracunan sianida bisa muncul dengan segera atau dalam waktu beberapa menit, bergantung pada dosis sianida yang terpapar, lama paparan, dan tipe sianida itu sendiri. Beberapa gejala yang dapat timbul pada keracunan sianida akut, yaitu:

  • Badan terasa lemas
  • Mual dan muntah
  • Kebingungan dan perubahan perilaku
  • Sakit kepala
  • Sesak napas
  • Kulit tampak pink atau kemerahan seperti buah ceri

Sianida di dalam darah akan berikatan dengan hemoglobin sehingga jaringan tidak dapat menggunakan oksigen. Hal ini lah yang menyebabkan efek keracunan sianida terjadi secara cepat, berdampak lanjut pada jantung, menyebabkan kejang, hilang kesadaran, bahkan hingga menyebabkan jantung berhenti. Untuk mendeteksi keracunan sianida melalui gejala memang cukup sulit, tapi Anda dapat memperhatikan faktor lingkungan yang dicurigai menjadi sumber sianida. Jika ada seseorang yang menunjukan gejala seperti diatas, segera lah cari bantuan kepada tenaga medis profesional, agar segera mendapatkan penanganan medis.

Superfood yang Mendandung Anti Inflamasi

  • Januari 9, 2020

Jika Anda salah satu penggemar Selena Gomez, pasti Anda tahu bahwa Selena Gomez menderita penyakit autoimun yang disebut Lupus. Tidak mengatasi penyakit yang satu ini karena pola hidup dan makan harus benar-benar dijaga. Salah satu pola makan yang disarankan bagi penderita lupus adalah makanan yang mengandung anti inflamasi. Makanan yang mengandung anti inflamasi tidak hanya dianjurkan bagi penderita Lupus, tapi juga dianjurkan untuk orang sehat agar kondisi badan tetap fit dan produktif. Berikut beberapa contoh makanan superfood yang mengandung anti inflamasi.

Makanan yang mengandung anti inflamasi

Lupus adalah penyakit yang menyebabkan inflamasi atau peradangan. Jadi, makanan yang mengandung anti inflamasi bisa membantu penderita Lupus melawan peradangan.

  • Makanan yang mengandung Omega-3

Daging merah penuh dengan lemak jenuh yang dapat menyebabkan penyakit jantung. Oleh karena itu, sebaiknya gantilah ganti konsumsi daging merah dengan ikan yang mengandung banyak Omega-3 seperti ikan salmon, tuna, mackerel, dan sarden.

Selain dapat melindungi dari penyakit jantung dan stroke, makanan yang mengandung Omega-3 juga memiliki manfaat sebagai anti inflamasi dalam tubuh.

  • Makanan mengandung anti oksidan

Makanan lain yang memiliki efek anti inflamasi adalah makanan yang tinggi antioksidan seperti sayur dan buah-buahan. Buah yang banyak mengandung antioksidan adalah golongan “berries” seperti strawberry, blueberry, raspberry, dan blackberry. Buah superfood lain yang mengandung anti inflamasi adalah alpukat. Buah ini dapat mengurangi inflamasi pada sel-sel tubuh muda. Sedangkan, sayuran yang mengandung antioksidan dan efek anti inflamasi adalah brokoli, kubis Brussel, kembang kol, kale, dan tomat.

  • Makanan yang mengandung Vitamin A, Vitamin B6 dan Vitamin C

Makanan yang mengandung vitamin A juga memiliki efek anti inflamasi, seperti sayur bayam, ubi jalar, dan sayur-sayur hijau lainnya. Vitamin B6 juga memiliki efek anti inflamasi, terutama penting sekali dipenuhi pada penderita penyakit autoimun seperti Lupus.  Makanan yang mengandung vitamin C juga memiliki efek anti inflamasi dan meningkatkan kekebalan tubuh. Makanan yang kaya akan vitamin C diantaranya jeruk, kiwi, papaya, sayur-sayuran hijau.