Apa Itu Osteomalasia?

  • Maret 3, 2021
Osteomalasia

Osteomalasia dan Osteoporosis adalah penyakit yang menyerang tulang. Kedua penyakit ini seringkali dianggap sama, padahalnya kedua penyakit sangatlah berbeda. Osteomalasia adalah kelainan pada tulang yang menyebabkan tulang lunak sehingga mudah patah. Sementara itu, osteoporosis adalah penyakit tulang yang ditandai dengan menurunnya kepadatan tulang secara keseluruhan. Tulang menjadi keropos dan rentan mengalami patah tulang. 

Penyebab dari osteomalasia dan osteoporosis ini pun sangat berbeda meski salah satu penyebabnya berkaitan dengan kurangnya vitamin D. Osteoporosis terjadi akibat ketidakmampuan tubuh mengatur kandungan mineral dalam tulang dan disertai rusaknya bagian dalam tulang. Penyebab utamanya adalah faktor hormonal dan bertambahnya usia

Sementara osteomalasia adalah kelainan tulang yang disebabkan oleh kekurangan vitamin D, fosfat, dan kalsium. Ketiga komponen tersebut merupakan zat utama yang mendukung kesehatan tulang, sehingga tulang akan terbentuk dengan kuat. Jika dalam tubuh ketiga zat tersebut kurang, besar kemungkinan akan terkena osteomalasia karena nutrisi yang tidak seimbang.

Ada beberapa perbedaan antara osteoporosis dan osteomalasia dari beberapa aspek.

  1. Diagnosis

Diagnosis osteoporosis dapat ditegakkan dengan menggunakan pemeriksaan bone mineral density (BMD) untuk melihat kepadatan tulang. Pada osteomalasia, pemeriksaan darah untuk melihat kadar vitamin D, kalsium, dan fosfat wajib dilakukan. Selain itu, dapat pula dilakukan pemeriksaan rontgen untuk kedua penyakit di atas, mengingat ada komplikasi berupa retak atau patah tulang.

  1. Gejala

Osteoporosis termasuk dalam kategori “silent killer” karena tidak menunjukkan gejala yang menandakan adanya penurunan kepadatan tulang, kecuali terdeteksi saat tes kepadatan tulang. Sering kali, osteoporosis ketahuan setelah pasien mengalami jatuh dan patah tulang. Osteomalasia sendiri gejalanya bisa diketahui dengan jelas karena adanya perubahan bentuk tulang, misalnya pada tulang punggung, lengan, dan tungkai bawah. Penderita juga bisa mengalami kaki yang melengkung ke dalam menyerupai huruf “O”, dada busung, serta lutut menyerupai huruf “X”.

Pada orang dewasa kelemahan tulang membuat tulang menjadi lunak dan menjadi pendek, sehingga penderita akan berkurang tinggi badannya. Tulang tengkorak yang memendek dapat mengubah bentuk tulang toraks (bagian antara kepala dan perut). Hal ini membuat pasien terlihat seperti bungkuk. Gejala lain yang dapat menyertai termasuk penurunan berat badan, kelemahan otot, nyeri tulang, serta kesulitan menelan.

  1. Pengobatan

Prinsip pengobatan osteoporosis adalah meningkatkan kepadatan tulang dan menghindari risiko jatuh. Pengobatan dapat disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, tingkat keparahan, atau kondisi medis lainnya. Penderita osteoporosis perlu diberikan asupan kalsium dan vitamin D. Selain itu dapat pula diberikan bisphosphonate, strontium ranelate, serta obat-obatan yang bersifat hormonal. Pada pengobatan pasien dengan osteomalasia, pilihan pengobatan harus didiskusikan dengan dokter. Namun berdasarkan penyebabnya, pengobatan osteomalasia bisa diupayakan dengan cara mengatasi kekurangan vitamin D dan kekurangan fosfat.

Meski antara osteoporosis dan osteomalasia sebenarnya berbeda, pencegahan dari kedua penyakit ini bisa dilakukan dengan mengonsumsi suplemen yang dapat menunjang kebutuhan vitamin D untuk tubuh. Jika Anda tidak dapat mencukupi asupan vitamin dan mineral lewat makanan, suplemen bisa menjadi pilihan. Akan tetapi, penggunaan suplemen harus di bawah pengawasan dokter. Pasalnya, konsumsi suplemen dapat menimbulkan reaksi alergi pada orang-orang tertentu dan dalam jangka panjang berisiko menyebabkan efek samping.

Selain makanan dan suplemen, sumber vitamin D juga bisa Anda dapatkan lewat sinar matahari. Jadi, cobalah untuk berjemur di pagi hari selama kurang lebih 10 menit setiap hari. Namun, pastikan jika kulit Anda langsung terkena paparan sinar matahari. Ketika akan berjemur, hindari menggunakan krim tabir surya karena ini akan mengganggu proses penyerapan sinar matahari di kulit.

Resiko Penurunan Kesadaran pada Kondisi Status Epileptikus

Resiko Penurunan Kesadaran pada Kondisi Status Epileptikus

  • Februari 3, 2021

Epilepsi merupakan suatu keadaan yang memengaruhi otak dan menyebabkan penderita mengalami kejang secara berulang-ulang. Kejang yang muncul merupakan lonjakan listrik yang muncul dan terjadi secara mendadak di otak. Status epileptikus sendiri merupakan bentuk serangan dari penyakit epilepsi yang fatal dan cukup sering muncul pada penderitanya. Keadaan kejang yang berlangsung lama dapat menyebabkan penderitanya mengalami penurunan kesadaran.

Kondisi kejang tersebut tergolong gawat dan perlu penanganan medis darurat karena dapat menyebabkan kerusakan otak dan berakibat fatal. Selain itu, kasus status epileptikus juga lebih sering terjadi pada orang yang berusia 50 tahun ke atas atau pada anak-anak berusia di bawah 15 tahun. Status epileptikus pada epilepsi biasanya terjadi karena perubahan dosis atau jenis obat antikejang yang dikonsumsi.

Status epileptikus ditandai dengan kondisi kejang-kejang yang berlangsung selama lebih dari 30 menit atau terjadi dua kali atau lebih dengan penderita yang tidak mendapatkan kesadarannya secara menyeluruh. 

Kejang bisa terjadi dalam bentuk yang beragam. Terdapat gejala kejang yang umum dan ada juga yang tidak umum, tergantung pada bagian otak mana yang mengalami kelainan. Gejala yang muncul dapat dibagi menjadi dua tipe melalui pemantauan gelombang listrik otak dengan EEG, yaitu tipe konvulsif dan non-konvulsif.

Tipe nonkonsulvif adalah kelainan sensasi pada satu sisi tubuh (parestesia), daya lihat mengalami perubahan, adanya halusinasi warna, terdapat halusinasi pada indera pengecap dan penciuman, serta rasa tidak nyaman pada bagian perut yang tidak dapat dijelaskan. 

Sedangkan, pada tipe konsulvif, status epileptikus muncul dengan beragam, seperti penurunan kesadaran, kakunya otot di sebagian atau seluruh tubuh, kejang otot di sebagian atau seluruh tubuh, rahang kaku, pipi atau lidah tergigit, napas berhenti mendadak, dan kulit berwarna kebiruan.

Penanganan awal status epileptikus meliputi tindakan meletakkan pasien pada posisi yang aman untuk menghindarkan cedera, membantu respirasi termasuk memberikan oksigen, mempertahankan tekanan darah, dan koreksi jika terjadi hipoglikemia. Jika dicurigai adanya penyalahgunaan alkohol maka pertimbangkan pemberian tiamin secara parenteral, berikan piridoksin bila status epileptikus disebabkan oleh defisiensi piridoksin. 

Untuk menangani kejang yang terjadi akibat status epileptikus, ada beberapa hal penting yang harus Anda lakukan, di antaranya: 

  • Mengamankan jalan napas dan memperhatikan fungsi pernapasan dan jantung.  Apabila saat kejang-kejang disertai dengan penurunan kesadaran dan kesulitan bernapas, maka tindakan intubasi harus segera dilakukan, yaitu dengan memasang alat bantu napas agar fungsi pernapasan penderita dapat kembali bekerja serta memberikan oksigen yang optimal. 
  • Melepaskan benda tajam yang ada disekitar penderita guna menghindari cedera.
  • Tidak menahan atau memasukkan apapun ke dalam mulut orang yang sedang kejang-kejang, karena dapat menimbulkan luka. 
  • Apabila kejang-kejang terjadi lebih dari 5 menit, maka segera hubungi ambulans agar segera mendapat penanganan yang tepat. 
  • Apabila kejang berlangsung lama, jangan tinggalkan penderita sendirian, karena ia akan merasa bingung. 
  • Apabila memiliki kejang aktif, penderita lebih baik menghindari potensi bahaya dari tempat tinggi atau mesin bergerak, di rumah, sekolah, atau tempat bekerja . 

Kejang dan status epileptikus dapat terjadi akibat berbagai macam hal. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan pemeriksaan ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan yang lengkap. Penderita akan menjalani pemeriksaan fisik dan proses evaluasi tipe kejang apabila gejala kejang muncul saat melakukan pemeriksaan. 

Apabila penyebab kejang atau epilepsi telah diketahui, maka dokter dapat menentukan pengobatan yang tepat sesuai dengan penyebabnya. Biasanya, penderita epilepsi diberikan obat anti-epilepsi dan hampir 70% penderita dapat mengontrol kejang dengan obat ini. 

Pasien yang mengalami penurunan kesadaran akibat epilepsi harus menghindari kondisi yang dapat memicu timbulnya kejang. Jika pasien sedang mengonsumsi obat-obatan untuk penyakit tertentu, kemudian mengalami penurunan kesadaran, pasien akan dianjurkan untuk mengganti obat yang dikonsumsi.

Kenali Gejala dan Penyebab Lumpuh Otak

  • Januari 21, 2021

Lumpuh otak (cerebal palsy) merupakan kondisi yang menghambat gerakan dan koordinasi seseorang seumur hidup. Meski demikian, pengaruh lumpuh otak terhadap kemampuan fungsional bervariasi tergantung tingkat keparahan. Semua orang mungkin mengalami lumpuh otak. Akan tetapi, terdapat faktor risiko lumpuh otak yang berhubungan dengan masa persalinan yaitu kelahiran prematur, kelahiran kembar, komplikasi saat melahirkan, hiperbilirubinemia, serta adanya infeksi selama hamil. Selain itu, bayi tabung, adanya genetika, dan berat badan lahir rendah juga menjadi faktor risiko terjadinya lumpuh otak. Lalu, apa saja gejala dan penyebab lumpuh otak? Berikut penjelasan lengkapnya. 

Gejala lumpuh otak

Terdapat beberapa gejala lumpuh otak yang mungkin muncul yaitu:

  • Otot kaku dan refleks berlebihan 
  • Kesulitan berjalan seperti berjalan pada ujung kaki 
  • Kekuatan otot dapat  terlalu kaku atau terlalu lemah
  • Keterlambatan dalam pencapaian tonggak perkembangan
  • Gerakan gelisah, tersentak-sentak, ceroboh akibat kurang koordinasi
  • Hanya memakai satu sisi tubuh
  • Berbagai kesulitan lain seperti bicara, makan, belajar, mengontrol buang air, dan tidur
  • Gangguan pada penglihatan, pendengaran, kejang, GERD, dan skoliosis

Penyebab lumpuh otak

Lumpuh otak karena perkembangan otak bayi tidak dapat terjadi secara normal saat di dalam rahi,. Selain itu, lumpuh otak juga mungkin terjadi apabila otak bayi rusak selama proses kelahiran atau setelah selesai proses tersebut. Berikut ini kan dijelaskan penyebab lumpuh otak secara lebih spesifik. 

  • Infeksi selama kehamilan seperti herpes simpleks dan campak jerman
  • Cedera kepala serius sehingga terjadi perdarahan intrakranial
  • Saat proses kelahiran yang sulit atau asfiksia neonatorum, otak bayi tidak mendapat cukup oksigen
  • Pendarahan pada otak bayi 
  • Penurunan suplai darah dan oksigen ke otak sehingga terjadi stroke
  • Infeksi pada otak seperti ensefalitis dan meningitis
  • Mutasi genetik yang menyebabkan perkembangan otak abnormal

Diagnosis lumpuh otak 

Penyebab berbagai gejala yang telah disebutkan di atas tidak hanya lumpuh otak saja. Beberapa kondisi lain memiliki gejala yang mirip. Oleh karena itu, serangkaian pemeriksaan perlu dijalani pasien agar dokter dapat menentukan diagnosis seperti berikut ini. 

  • Mengecek riwayat dan perkembangan medis pasien 
  • Memeriksa gejala lumpuh otak yang mungkin dialami
  • Menanyakan apakah terdapat masalah selama kehamilan, saat melahirkan, serta setelah bayi lahir
  • Pemeriksaan lainnya termasuk USG, MRI, dan CT scan
  • EEG dan EMG
  • Tes darah

Cara mengobati lumpuh otak 

Sayangnya, hingga saat ini lumpuh otak belum dapat disembuhkan. Meski demikian, pasien lumpuh otak tetap bisa menjalani kehidupan yang normal dan mandiri.

  1. Fisioterapi

Fisioterapi diterapkan pada pasien dengan tujuan dapat membantu mempertahankan kemampuan fisik. Selain itu, fisioterapi juga berguna untuk memperbaiki gangguan gerakan yang dialami pasien. 

  1. Terapi wicara dan terapi okupas 

Untuk mengatasi kesulitan berbicara, berkomunikasi, dan menelan maka dapat menggunakan terapi wicara. Selain itu, terapi okupasi juga diperlukan untuk membantu mengidentifikasi berbagai masalah yang terjadi pada kehidupan sehari-hari dan mencari solusi bersama. 

  1. Pemberian obat

Pemberian obat juga mungkin dilakukan oleh dokter untuk membantu meringankan gejala yang muncul. 

  1. Operasi 

Selain terapi dan pemberian obat, operasi juga bisa menjadi pilihan. Operasi dapat membantu mengobati gangguan pertumbuhan atau gangguan gerakan yang dialami.

Terdapat risiko terjadinya komplikasi akibat lumpuh otak yang dialami. Berbagai komplikasi tersebut meliputi skoliosis, osteoartritis, gangguan perkembangan, depresi, malnutrisi, gangguan paru,  dan gangguan jantung. Agar komplikasi tidak terjadi, maka segera lakukan pemeriksaan ke dokter jika terdapat berbagai tanda terjadinya lumpuh otak. Dengan begitu penanganan dapat dilakukan segera. Apabila Anda ingin berdiskusi lebih lanjut mengenai lumpuh otak, tanyakan langsung pada dokter secara gratis melalui aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Unduh aplikasi SehatQ sekarang juga melalui App Store atau Google Play. 

katarak kortikal

Katarak Kortikal, Ini Penjelasan dan Cara Penanganannya!

  • Januari 20, 2021

Katarak kortikal adalah salah satu dari jenis katarak. Katarak sendiri adalah kondisi mata yang sangat umum terjadi pada orang dewasa paruh baya atau lebih tua. Namun, faktanya banyak orang dewasa yang berusia di atas 40 tahun menderita katarak.

Lalu, kondisi seperti apakah katarak kortikal dan bagaimana cara penanganannya? Yuk, simak penjelasannya lengkapnya di artikel berikut.

Katarak kortikal

Katarak kortikal adalah jenis katarak yang mempengaruhi tepi lensa. Katarak jenis ini dimulai dengan keputihan, kekeruhan berbentuk baji atau goresan di tepi luar korteks lensa. Saat bergerak perlahan, guratan meluas ke tengah dan mengganggu cahaya yang melewati bagian tengah lensa.

Jika Anda menderita diabetes, maka kemungkinan Anda terkena katarak kortikal lebih besar daripada yang tidak. Gejala katarak ini mencakup penglihatan kabur, kesulitan dengan cahaya atau silau, dan perubahan persepsi kontras dan kedalaman.

Apa gejala katarak kortikal yang paling umum?

Masing-masing dari ketiga jenis katarak memiliki gejala tersendiri, jadi jangan tertipu dengan berpikir apa yang Anda alami bukanlah katarak karena tidak memenuhi gejala yang telah Anda baca untuk jenis katarak lainnya.

Gejala khas yang menyertai katarak kortikal meliputi:

  • Meningkatnya kesulitan mengemudi di malam hari
  • Garis kabur yang mempengaruhi penglihatan
  • Penglihatan kabur
  • Kehilangan penglihatan (atau peningkatan kehilangan penglihatan)
  • Penglihatan yang hanya terjadi di salah satu mata Anda (secara teknis dikenal sebagai diplopia monokuler)
  • Silau dari matahari atau dari pencahayaan buatan

Seseorang dengan katarak kortikal mungkin akan mengalami satu, segelintir atau semua gejala yang disebutkan tadi. Setiap kali Anda mengalami perubahan dalam penglihatan Anda, penting untuk memeriksakan mata Anda untuk menentukan penyebab dan rencana perawatan yang tepat.

Peratawan dan penanganan katarak kortikal

Katarak kortikal biasanya diobati baik melalui penggunaan kacamata resep atau melalui operasi.

  • Kacamata biifokal resep biasanya merupakan langkah pertama untuk membantu meningkatkan penglihatan penderita katarak. Jika Anda memiliki kacamata, resep Anda mungkin akan diperbaharui ke resep yang lebih baru dalam upaya membantu Anda dapat melihat lebih jelas. katarak yang tidak diobati, akan terus tumbuh dan berubah, jadi membeli kacamata baru biasanya merupakan solusi jangka pendek.
  • Operasi katrak,  yang dilakukan oleh ahli bedah mata, adalah langkah selanjutnya ketika kacamata resep tidak lagi berguna, dan katarak Anda mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Operasi dapat menghilangkan lensa keruh, meninggalkan lensa buatan di tempatnya. Operasi katarak adalah hal biasa dan normal dialami.

Konsultasi dengan dokter mata berpengalaman dan berpengatahuan luas akan membantu menentukan apakah Anda menedrita katarak dan jika perlu memandu Anda untuk melalui pilihan perawatan katarak kortikal.

Perilaku yang dapat diubah untuk mengurangi risiko katarak Anda

  • Radiasi ultraviolet dari matahari
  • Diabetes
  • Hipertensi
  • Kegemukan
  • Merokok
  • Konsumsi alkohol yang signifikan

Risiko terkait dengan penggunaan obat

  • Penggunaan obat kortikosterois dalam waktu lama
  • Obat statin digunakan untuk menurunkan kolesterol
  • Cedera atau peradangan mata sebelumnya
  • Operasi mata sebelumnya
  • Terapi penggantian hormon

Risiko yang tidak dapat diubah

  • Sejarah keluarga
  • Cedera atau peradangan mata sebelumnya
  • Operasi mata sebelumnya
  • Myopia tinggi (rabun jauh)

Jadi, penanganan untuk katarak kortikal ada dua pilihan, menggunakan kacamata dengan resep dokter atau melakukan operasi katarak. Untuk menenetukan perawatan mana yang akan Anda lakukan, ada baiknya untuk terus berkonsultasi dengan dokter mata Anda untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik guna mendapatkan penglihatan yang normal kembali.

Untuk Para Wanita, Waspada Gejala Kanker Vagina Ini

Untuk Para Wanita, Waspada Gejala Kanker Vagina Ini

  • Januari 20, 2021

Sesuai namanya, kanker vagina merupakan jenis kanker yang menyerang salah satu organ pada wanita, yaitu vagina. Kanker pada area vagina bisa juga disebabkan oleh kanker lainnya yang terjadi pada alat reproduksi wanita, seperti kanker serviks.

Jenis kanker ini tergolong sebagai jenis kanker yang cukup langka. Pada stadium awal, jenis kanker ini tidak menunjukkan adanya gejala signifikan. Hal ini membuat kanker jenis ini lebih sulit untuk dideteksi. 

Mewaspadai gejala kanker vagina

Dengan mengetahui apa saja gejala dari kanker vagina, Anda bisa mewaspadai tanda-tanda kanker ini. Gejala pada setiap pasien bisa saja berbeda-beda. 

Beberapa gejalanya juga serupa dengan kondisi lainnya yang menyerang vagina. Ini menjadi salah satu faktor sulitnya mendeteksi kanker jenis ini.

Berikut ini beberapa gejala kanker vagina yang perlu Anda waspadai: 

  • Massa vagina

Gejala ini ditandai dengan munculnya benjolan yang dapat Anda rasakan pada area vagina. Akan tetapi, benjolan massa pada area vagina tidak selalu menandakan kanker. Bisa saja, ada kondisi lain yang menyebabkan hal ini. 

  • Keputihan

Keputihan sebenarnya umum terjadi pada semua wanita di seluruh dunia. Akan tetapi, wujud keputihan yang tidak normal bisa menjadi pertanda kanker jenis ini.

Misalnya, apabila keputihan tampak lebih berair dari biasanya, serta bercampur dengan darah atau berbau, bisa jadi Anda menderita gejala kanker. 

  • Pendarahan abnormal

Saat Anda menderita kanker jenis ini, Anda juga akan mengalami pendarahan vagina yang tidak normal. Pendarahan ini bisa terjadi setelah melakukan hubungan seksual atau pada wanita yang sudah menopause. Gejala ini adalah gejala kanker vagina yang paling umum.

  • Perubahan urin

Gejala lainnya pada kanker jenis ini adalah perubahan wujud urin. Urin Anda mungkin berwarna kemerahan karena bercampur dengan darah. Selain itu, Anda juga bisa merasakan nyeri luar biasa ketika buang air kecil. 

  • Nyeri panggul

Nyeri ini dirasakan ketika sel kanker semakin bertumbuh dan mulai menyebar ke area-area lainnya. Nyeri yang Anda rasakan berupa tekanan pada area perut di bawah pusar.

Rasa nyeri ini bisa terjadi terus menerus maupun datang dan pergi secara berkala. Banyak penderita mengaku rasa nyeri ini disertai dengan sensasi menusuk yang tajam. 

Mengapa seseorang bisa mengalami kanker vagina?

Sebenarnya, sama seperti kebanyakan jenis kanker, jenis kanker yang satu ini juga tidak diketahui dengan pasti penyebabnya. Para ahli masih melakukan penelitian untuk mengetahui faktor penyebab dari kanker ini.

Akan tetapi, ada juga beberapa hal lain yang dipercaya bisa menyebabkan kanker, yaitu: 

  • Kanker serviks

Saat Anda menderita kanker pada organ reproduksi, seperti kanker serviks, maka sel kanker tersebut bisa menyebar dan menimbulkan kanker vagina. Hal ini juga bisa dipicu oleh perkembangan virus tertentu. 

  • Human Papilloma Virus (HPV)

Penyakit ini merupakan infeksi virus yang ditularkan melalui aktivitas seksual. HPV menjadi salah satu penyakit menular seksual yang patut diwaspadai. Berdasarkan penelitian, HPV menjadi penyebab paling umum kanker vagina. 

  • In-utero exposure to diethylstilbestrol (DES)

DES adalah obat yang diberikan kepada wanita hamil untuk mencegah keguguran. Akan tetapi, saat ini penggunaan obat ini sudah jarang dilakukan. Karena, kanker vagina menjadi efek samping utama dari DES. 

Saat merasakan adanya gejala kanker vagina, segera lakukan pemeriksaan ke dokter. Dokter bisa membantu mencari tahu apa penyebabnya dan menentukan upaya pengobatan yang paling efektif.

Bahan Alami yang Dipercaya Ringankan Gejala Penyakit Alopecia

  • Januari 12, 2021

Banyak orang memaknai rambut sebagai penunjang penampilan yang penting. Kelompok orang ini tentu akan menjaga sedemikian rupa kondisi rambut mereka agar tetap memukau. Mungkin kerontokan rambut menjadi momok yang amat menakutkan, apalagi jika penyebabnya datang dari dalam tubuh seperti penyakit alopecia.

Penyakit alopecia, atau dalam dunia medis disebut alopecia areata, merupakan masalah kesehatan yang berkaitan dengan autoimun seseorang. Penyakit ini membuat rambut penderitanya rontok “dari dalam”, berbeda sama sekali dengan faktor-faktor eksternal kerontokan rambut seperti penggunaan shampo yang tidak tepat, misalnya.

Penyakit alopecia bisa membuat rambut rontok di beberapa bagian atau malah seluruhnya. Umumnya, alopecia areata ini menyerang folikel rambut yang ada di kepala. Namun, ada laporan bahwa rusaknya sistem imunitas tubuh ini juga mempengaruhi bagian tubuh lain yang ditumbuhi rambut, termasuk alis, kumis, jenggot, hingga bulu mata.

Siapa saja, tak peduli gender ataupun usia, bisa menderita penyakit alopecia. Penyebabnya ditengarai karena salinan gen dari orang tua, meski beberapa kondisi autoimun lain, utamanya vitiligo atau tiroid, bisa memicu timbulnya kondisi ini. Penyakit alopecia memang tidak berisiko menimbulkan penyakit serius lain, tetapi bagi mereka yang amat peduli dengan penampilan, penyakit alopecia mungkin bisa jadi masalah besar.

Sebenarnya, kerontokan rambut akibat penyakit alopecia dapat diatasi dengan beberapa prosedur medis. Tenaga kesehatan kerap menggunakan steroid, baik itu melalui suntikan atau olesan krim, untuk mengatasi kerontokan rambut yang terjadi. Minoxidil pun merupakan obat umum yang sudah populer digunakan untuk mengobati penyakit ini.

Imunoterapi juga mulai sering digunakan dalam rangka mengatasi masalah yang ditimbulkan penyakit alopecia. Akan tetapi, bagi Anda yang mungkin ragu dan khawatir akan kemungkinan efek samping pengobatan medis tersebut, bisa melirik langkah atau cara-cara alternatif dengan memanfaatkan berbagai bahan alami, seperti:

  • Minyak rosemary

Minyak rosemary dipercaya khasiatnya untuk perawatan rambut. Pasalnya, minyak ini bisa mempercepat pertumbuhan serta melebatkan ketebalan rambut. Minyak rosemary bekerja dengan cara meningkatkan metabolisme sel untuk mempercepat pertumbuhan rambut.

Penelitian dari International Academy of Cosmetic Dermatology menunjukkan bahwa mengoleskan minyak rosemary secara rutin pada area kepala yang mengalami penyakit alopecia, bisa memberikan hasil yang sama efektifnya seperti pemberian minoxidil. Minoxidil merupakan salah satu pengobatan konvensional untuk alopecia areata.

  • Bahan makanan sumber seng

Berdasarkan satu penelitian yang dimuat di Journal of Dermatology, orang yang memiliki masalah rambut rontok, termasuk para penderita penyakit alopecia, terbukti kekurangan kadar seng di dalam tubuhnya. Oleh karenanya, dengan mengembalikan jumlah senyawa itu, mungkin seseorang bisa mengatasi masalah yang dideritanya.

Untuk memenuhi kecukupan seng, seseorang bisa mengonsumsi makanan dengan kandungan seng yang tinggi. Misalnya bayam, daging ayam, kerang, lobster, kepiting, jamur, dan lain sebagainya.

  • Ginseng

Ginseng merupakan salah satu tanaman herbal yang cukup populer berkat kandungan senyawa farmakologisnya. Ginseng bekerja dengan baik untuk mengurangi peradangan dan meningkatkan kekebalan tubuh. Maka itu, rempah ini dipercaya untuk meningkatkan pertumbuhan rambut pada orang yang memiliki penyakit alopecia.

  • Minyak lavender

Cara alami lainnya yang bisa digunakan untuk mengobati rambut rontok, yaitu dengan penggunaan minyak lavender. Ada berbagai manfaat baik yang ditawarkan oleh minyak lavender, termasuk untuk meningkatkan pertumbuhan setiap helai rambut. Sebab, ia berperan sebagai antioksidan kuat guna mengurangi peradangan.

Selain dengan bahan-bahan alami di atas, seseorang bisa juga melakukan berbagai upaya yang berkaitan dengan mental atau psikologisnya. Terapi hipnosis, misalnya. Sebuah eksperimen pernah dilakukan untuk mengetahui hubungan pengendalian stres, depresi, dan kecemasan dengan pertumbuhan kembali rambut pasca-mengalami penyakit alopecia.

Hasilnya, 12 dari 21 peserta mengalami pertumbuhan rambut yang cepat setelah menjalani hipnosis. Temuan tersebut juga diperkuat oleh satu penelitian yang diterbitkan di Journal of Dermatology bahwa stres memainkan peran penting yang bisa memicu kerontokan rambut para hingga akhirnya menyebabkan penyakit alopecia.

Penyebab Erythema Nodosum, Benjolan Merah dan Nyeri pada Kulit

  • Desember 23, 2020

Pernahkah Anda mengalami memar merah keunguan yang terasa menonjol dan cenderung nyeri saat ditekan? Dalam istilah medis itu disebut dengan erythema nodosum. Benjolan ini umumnya ditemui di atas tulang kering, di lengan, atau area tubuh lain. 

Erythema nodosum merupakan bentuk peradangan lapisan lemak di bawah kulit (panniculitis). Orang berusia 20-30 tahun, terutama wanita rentan terhadap gangguan ini. 

Hingga 55 persen kasus tidak diketahui penyebabnya secara jelas, namun biasanya disebabkan oleh berbagai faktor.

Gejala erythema nodosum

Setiap individu mengalami gejala yang bervariasi dan bisa menyerupai kondisi kulit lainnya. Namun gejala erythema nodosum yang paling umum antara lain:

  • Muncul sebagai benjolan lembut (nodul) dengan kisaran ukuran 1-10 cm
  • Bentuk nodul yang tidak beraturan
  • Terletak di tulang kering, lengan, atau area tubuh lainnya
  • Berwarna merah atau keunguan
  • Demam
  • Nyeri sendi
  • Membengkaknya kelenjar getah bening di dada

Penyebab dan pemicu erythema nodosum

Satu per tiga kasus pasien erythema nodosum tidak diketahui penyebabnya secara jelas. Seringkali benjolan munjul sebagai gejala dari penyakit lain, infeksi, atau efek samping penggunaan obat-obatan tertentu. 

Penyakit yang dapat menyebabkan erythema nodosum meliputi:

  • Infeksi bakteri seperti Yersinia spp., mycoplasma, klamidia (penyebab penyakit menular seksual umum), tuberkulosis (penyebab penyakit TBC), dan banyak lainnya. Pada pasien anak-anak penyebab erythema nodosum yang paling umum adalah infeksi bakteri streptokokus
  • Sarkoidosis, yaitu radang kelenjar getah bening dan organ lain
  • Coccidioidomycosis, yaitu infeksi saluran napas atas dan paru-paru
  • Histoplasmosis atau penyakit paru menular
  • Penyakit radang usus
  • Psittacosis atau parrot fever
  • Penyakit Crohn atau kolitis ulserativa
  • Tumor jinak
  • Beberapa jenis kanker
  • Penyakit Behcet

Sedangkan obat-obatan yang dapat memicu erythema nodosum antara lain:

  • Antibiotik yang mengandung sulfa atau penisilin
  • Bromida
  • Iodida
  • Kontrasepsi oral

Kehamilan juga dapat menyebabkan munculnya benjolan tersebut. 

Apakah erythema nodosum penyakit yang serius?

Erythema nodosum bukanlah penyakit yang serius sehingga Anda tak perlu mengkhawatirkannya. Benjolan dan memar akan hilang sendirinya dalam waktu 3 hingga 6 minggu tanpa perawatan khusus. 

Untuk mempercepat pemulihan, Anda bisa melakukan alternatif meliputi bedrest atau istirahat yang cukup, mengompres benjolan dengan air dingin, meletakkan kaki pada posisi yang lebih tinggi dengan bantal, dan mengonsumsi obat peredan nyeri nonsteroid (NSAID). 

Anda juga bisa meminta bantuan dokter. Dokter bisa mendiagnosa erythema nodosum dari gejala yang tampak, namun tak jarang dilakukan biopsi atau pengangkatan jaringan nodul untuk diperiksa di bawah mikroskop. 

Tes lain mungkin dilakukan untuk mencari penyebabnya, yang meliputi rontgen dada, tes darah, tes usap tenggorokan (swab test), dan tes kulit untuk tuberkulosis. 

Perawatan khusus untuk erythema nodosum akan didasarkan pada beberapa faktor seperti:

  • Usia
  • Kondisi kesehatan 
  • Riwayat kesehatan
  • Seberapa parah erythema nodosum
  • Toleransi terhadap obat, prosedur, atau terapi tertentu
  • Preferensi pasien

Perawatan yang diberikan dapat berupa:

  • Antibiotik seperti penisilin atau cephalosporin untuk mengatasi infeksi bakteri yang mendasari
  • Pengobatan dari penyebab lain yang mendasari
  • Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) untuk menghilangkan nyeri

Jika pengobatan tidak efektif, dokter akan memberi kortikosteroid oral. Pemberian obat ini merupakan upaya terakhir karena dapat memperburuk kondisi erythema nodosum. 

Dokter juga akan menyarankan pasien untuk berhenti menggunakan obat yang dicurigai sebagai pemicu erythema nodosum.

Meski erythema nodosum sudah hilang, benjolan bisa saja muncul kembali jika dipicu oleh salah satu faktor yang telah disebutkan di atas. Jika Anda memiliki pertanyaan seputar erythema nodosum atau benjolan dan ruam lainnya, cobalah menanyakannya kepada dokter melalui aplikasi kesehatan SehatQ.

Download sekarang di App Store atau Google Play Store. 

Perhatikan Hal Ini Ketika Memakai Salep Cacar Air

  • November 13, 2020

Cacar air adalah infeksi virus yang menyebabkan demam dan ruam gatal dengan bercak di sekujur tubuh. Kebanyakan anak mudah merasa tidak dengan ruam ini, namun terdapat beberapa obat yang dapat mengatasi ketidaknyamanan cacar air, salah satunya salep cacar air atau krim.

Ruamnya cacar air bisa sangat gatal, namun ruam tersebut disarankan untuk tidak digaruk. Dulu penyakit ini merupakan penyakit anak yang umum, terutama pada anak-anak di bawah usia 12 tahun. Sekarang lebih jarang, berkat vaksin varicella.

Cacar air sering dimulai tanpa ruam, dengan demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, atau sakit perut. Gejala ini dapat berlangsung selama beberapa hari, dengan demam pada kisaran 38,3 ° –38,8 ° C. Ruam kulit yang merah dan gatal biasanya dimulai di perut atau punggung dan wajah. Kemudian menyebar ke hampir semua tempat di tubuh, termasuk kulit kepala, mulut, tangan, kaki, dan alat kelamin.

Ruam dimulai dari banyak benjolan merah kecil yang terlihat seperti jerawat atau gigitan serangga. Mereka muncul dalam gelombang selama 2 sampai 4 hari, kemudian berkembang menjadi lepuh berdinding tipis berisi cairan. Dinding lepuh pecah, meninggalkan luka terbuka, yang akhirnya mengeras menjadi keropeng coklat kering.

Karena cacar air sangat menular, orang yang mengidapnya harus tinggal di rumah dan beristirahat sampai ruamnya hilang dan semua lepuh telah mengering. Kondisi ini biasanya membutuhkan waktu sekitar 1 minggu. Jika Anda tidak yakin apakah Anda atau anak Anda siap untuk kembali beraktivitas di luar, tanyakan kepada dokter Anda.

Metode pengobatan rumahan dapat membantu mengurangi rasa gatal akibat ruam cacar air. Berikut beberapa pengobatan yang bisa Anda coba dan lakukan di rumah:

  • Mandi

Mandi air hangat hingga dingin dapat membantu meredakan gatal. Mandi selama 20 hingga 30 menit sesering yang diperlukan untuk tetap bersih dan menenangkan kulit yang gatal. Tambahkan segenggam oatmeal (digiling menjadi bubuk) ke bak mandi atau Anda bisa mencoba produk mandi oatmeal. Tepuk-tepuk kulit hingga kering setelah mandi, jangan menggosok kulit.

  • Kompres

Anda bisa mengoleskan kompres dingin ke area yang gatal. Gunakan kain penyerap yang lembut, seperti waslap lembut. Basahi kain dengan air dingin dan tempelkan kompres dingin langsung ke kulit. Anda juga bisa membuat pasta oatmeal dan mengoleskannya ke area yang gatal. Ambil sedikit oatmeal yang telah ditumbuk menjadi bubuk, lalu campur dengan sedikit air hangat untuk membuat pasta. 

  • Losion

Anda dapat mengoleskan losion atau salep penenang yang dapat membantu mengeringkan lepuh cacar air. Tetapi bicarakan dengan dokter Anda sebelum menggunakan lotion yang mengandung antihistamin. Anda bisa mencoba lotion atau salep dengan fenol, mentol, dan kapur barus, seperti losion kalamin serta oatmeal, seperti Aveeno Lotion.

Lotion atau salep yang mengandung antihistamin tidak boleh digunakan untuk cacar air. Namun terkadang antihistamin yang diminum akan membantu meredakan gatal. Antihistamin yang diminum dapat membantu mencegah Anda atau anak Anda menggaruk ruam dan lepuh, terutama saat tidur. Beberapa antihistamin dapat dibeli bebas. Jika Anda menggunakannya, ikuti petunjuk pada label dengan cermat. Periksa dengan dokter Anda sebelum Anda memberikannya kepada anak Anda.

Perlu diingat, ketika mengoleskan losion atau salep kalamin pada area yang gatal Anda harus menghindari daerah pada wajah, terutama di dekat mata. Untuk mencegah cacar air, Anda disarankan untuk mengimunisasi anak Anda terhadap cacar air setelah usia 12 bulan dan sekali lagi pada usia 4 sampai 5 tahun.

Tanda-Tanda dan Gejala Aase-Smith Syndrome

  • Oktober 1, 2020

Merupakan sebuah kelainan genetik langka yang bisa ditentukan di awal masa bayi disebut dengan Aase-Smith Syndrome. Secara umum, sindrom ini ditandai dengan keberadaan tiga ruas tulang pada ibu jari dalam ibu jari tersebut atau disebut juga triphalangeal thumb. Selain itu juga ditandai dengan kurangnya produksi sel darah merah atau anemia hipoplastik

Meski demikian, dalam beberapa kasus yang muncul, terdapat pula kelainan tambahan yang bisa dijumpai. Hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti dari kasus tersebut, sebagian besar bukti menunjukkan jika kelainan ini muncul karena warisan sebagai sifat resesif autosomal. Untuk itulah perlu diketahui beberapa tanda dan gejala terkait sindrom aase.

Tanda dan Gejala Aase-Smith Syndrome

Sindrom aase masuk dalam golongan penyakit atau kelainan yang langka, bahkan jumlah kasusnya sendiri tidak diketahui karena terkena dampak ringannya tidak terdiagnosis dengan baik. Konsultasi dengan dokter sangat dianjurkan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penyakit ini, selain itu kenali pula beberapa tanda dan gejala yang muncul akibat kelainan ini, seperti berikut.

  • Buku-buku atau juga ruas jari berukuran kecil hingga bahkan tidak terdapat buku jari.
  • Langit-langit mulut retak dan berkurangnya lipatan kulit di sendi jari, ibu jari dengan tiga ruas.
  • Cacat telinga, kelopak mata turun, pundak sempit dan kulit terlihat pucat.
  • Tidak mampu sepenuhnya membentangkan sendi sejak lahir atau disebut dengan contracture deformity.

Kapan Periksa ke Dokter?

Pengobatan dini dan diagnosis bisa digunakan untuk mencegah kondisi semakin memburuk hingga masuk ke dalam keadaan darurat medis lainnya. Untuk itu, segera konsultasikan ke dokter jika menemui tanda-tanda dan gejala seperti yang dijelaskan di atas. Hal ini guna mencegah kondisi masuk ke dalam keadaan serius.

Tanyakan segalanya mengenai kondisi ini kepada dokter saat konsultasi, karena tubuh setiap orang bereaksi dengan cara yang berbeda-beda. Diskusikan kondisi tersebut dengan dokter guna mendapat keputusan terbaik dalam menangani keadaan atau penyakit langka ini.

Penyebab Sindrom Aase

Pada kebanyakan kasus, penyakit langka ini muncul tanpa alasan yang jelas dan tidak diturunkan dalam keluarga. Meski demikian, terdapat beberapa kasus yang telah terbukti menjelaskan bahwa sindrom ini dapat menurun dari keluarga. Kondisi ini sama seperti dengan anemia diamond-blacfan dan keduannya tidak dapat dipisahkan.

Beberapa orang dengan kondisi anemia diamond-blackfan dan orang dengan penyakit sindrom aase menurut penelitian sama-sama memiliki kromosom 19 yang tidak sempurna. Sindrom aase disebabkan karena gangguan perkembangan sumsum tulang, tempat di mana sel darah terbentuk di dalam tubuh manusia.

Pengobatan dan Pencegahan

Di tahun pertama bayi, pengobatan bisa mencakup transfusi darah untuk mengobati anemia, obat steroid, seperti prednisone telah digunakan untuk mengobati anemia yang berkaitan dengan sindrom ini. Tetapi, obat ini hanya boleh digunakan jika telah meninjau manfaat dan risiko saat berkonsultasi dengan dokter yang berpengalaman dalam mengobati anemia.

Selain itu, tranplantasi sumsum tulang juga kemungkinan diperlukan apabila pengobatan lain yang sudah dilakukan gagal. Beberapa komplikasi terkait anemia di antaranya, badan lelah dan lemas, oksigen dalam darah berkurang dan gangguan jantung yang bisa menyebabkan berbagai komplikasi, tergantung pada kelainan seperti yang dialami.

Pencegahan Aase-Smith Syndrome bisa dengan menjalani konseling bersama pakar genetik, hal ini sangat dianjurkan jika seseorang sebelumnya memiliki riwayat keluarga terkait sindrom langka ini, konsultasi juga dilakukan untuk bisa menemukan solusi terbaik bagi para penderitanya.

Macam-Macam Hobi bagi Penderita Tuna Daksa

  • September 21, 2020

Tuna daksa adalah kondisi yang terjadi saat seseorang memiliki kelainan dalam pertumbuhan anggota tubuh. Hal ini menyebabkan penderita mengalami cacat fisik, umumnya pada area tulang dan sendi otot, namun memiliki fungsi penginderaan yang masih baik.

Bagi penderita tuna daksa, beberapa kegiatan mungkin tidak bisa dilakukan seperti orang-orang dengan kondisi fisik yang normal. Meski begitu, tetap ada cara bagi Anda untuk bisa menghibur diri dengan melakukan berbagai macam hobi.

Hobi yang bisa dijalani oleh penderita tuna daksa

Ketika Anda mengalami tuna daksa, Anda mungkin merasa sulit melakukan kegiatan yang menghibur. Tapi, jangan sampai kelainan fisik tersebut menghambat Anda untuk melakukan hobi.

Berikut ini beberapa rekomendasi hobi yang bisa dilakukan oleh penderita tuna daksa:

  • Hippotherapy

Hippotherapy merupakan salah satu hobi yang bisa sekaligus menjadi latihan terapi fisik bagi penderita tuna daksa. Kegiatan ini merupakan strategi pengobatan terapi fisik, wicara, dan bahasa yang memanfaatkan gerakan kuda.

Strategi hippotherapy telah lama menjadi strategi rehabilitas terintegrasi yang sampai saat ini masih dikembangkan. Ketika menunggangi kuda, seseorang akan dilatih untuk memiliki postur yang benar dengan memperhatikan berbagai struktur fungsi tubuh. Hal ini bisa menjadi terapi yang baik bila Anda memiliki kelainan fisik pada area tubuh tertentu.

Anda bisa menjalani hippotherapy sekaligus menikmati hobi menunggangi kuda. Ini bisa menjadi hobi baru yang menyehatkan bagi Anda. 

  • Mendaki gunung

Mendaki gunung termasuk salah satu aktivitas yang memicu tubuh Anda untuk berolahraga. Bagi penderita tuna daksa, kegiatan ini juga bisa menjadi hobi baru yang menyehatkan.

Akan tetapi, tidak semua gunung aman untuk ditanjaki oleh penderita tuna daksa. Beberapa tempat wisata gunung menyediakan fasilitas dan peralatan khusus untuk pendaki gunung yang menyandang disabilitas.

Tidak hanya mendaki gunung, Anda juga bisa melakukan hobi memanjat tebing. Pastikan untuk melakukan aktivitas panjat tebing di tempat yang menyediakan fasilitas khusus bagi penyandang disabilitas.

  • Scuba diving

Scuba diving merupakan salah satu jenis hobi sekaligus olahraga yang banyak digemari orang. Para penderita tuna daksa pun bisa melakukan kegiatan ini untuk menghibur diri dengan cara yang aman.

Ketika menyelam, tubuh Anda akan menjadi lebih ringan untuk digerakkan. Dengan begitu, Anda tidak akan merasa kesulitan untuk menumpu beban tubuh akibat adanya kecacatan fisik.

Anda bisa menemukan pilihan tempat-tempat eksotis yang aman dan menyediakan fasilitas bagi penyandang disabilitas. Saat ini, banyak tempat wisata yang sudah menyediakan fasilitas tersebut.

  • Berkebun

Sekilas, berkebun kedengarannya klise, namun aktivitas ini bisa juga menjadi hobi yang aman dan menyehatkan bagi penderita tuna daksa. Anda bisa memanfaatkan lahan untuk menanam berbagai jenis tanaman, baik di luar maupun di dalam ruangan.

Menurut penelitian, berkebun mampu memberikan sensasi rasa puas ketika tanaman berhasil tumbuh dengan baik. Hal ini membantu Anda untuk memperbaiki suasana hati dan kondisi mental yang mungkin terdampak dengan kekurangan pada bagian fisik Anda.

Pilihlah jenis tanaman yang kira-kira dapat tumbuh dengan baik di lingkungan tempat tinggal Anda. Lakukan dengan sabar dan sambil menikmati supaya kegiatan berkebun bisa menjadi hobi yang menghibur.

Itulah beberapa rekomendasi kegiatan yang bisa dicoba oleh penderita tuna daksa sebagai hobi baru. Bila Anda tidak yakin kegiatan apa yang cocok dengan Anda, cobalah semua jenis kegiatan sampai Anda menemukan yang benar-benar Anda sukai.