Tahapan Perkembangan Psikososial dalam Teori Erikson

Tahapan Perkembangan Psikososial dalam Teori Erikson

  • Desember 2, 2020

Pernahkah Anda mendengar tentang teori erikson? Teori ini merupakan teori perkembangan psikososial yang meyakini bahwa kepribadian berkembang dalam serangkaian tahapan. Ada delapan tahapan yang dilewati oleh setiap manusia dalam proses perkembangan kepribadian. 

Menurut pembuat teori ini, yaitu Erikson, setiap manusia melewati delapan tahapan perkembangan, dimana setiap tahapan itu bersifat saling membangun. 

Dalam setiap tahap, Anda akan berhadapan dengan krisis, dan cara Anda menyelesaikan krisis tersebut akan membangun kekuatan psikologis yang membentuk karakter Anda. 

Delapan Tahap Menurut Teori Erikson 

Berikut ini delapan rangkaian tahapan menurut teori Erikson: 

  • Kepercayaan dan ketidakpercayaan

Tahap pertama dilalui saat Anda melewati usia 12-18 bulan. Artinya, tahap ini terjadi ketika Anda masih bayi. 

Seorang bayi bergantung pada orang-orang yang mengasuhnya dan menaruh kepercayaan pada mereka. Jika orang dewasa gagal memberikan cinta kasih yang ia butuhkan, akan timbul ketidakpercayaan terhadap orang dewasa tersebut. 

  • Otonomi, rasa malu, dan keraguan

Tahap ini dilalui saat Anda berusia 18 bulan sampai tiga tahun. Pada tahap ini, Anda sebagai balita sudah memiliki selera tertentu terhadap makanan yang dikonsumsi, warna mainan, dan lain sebagainya. 

Di tahap ini juga, orang tua biasanya mulai mendidik anak untuk bisa menggunakan toilet secara mandiri. Dengan memberikan kebebasan bagi anak untuk mengambil kendali atas dirinya sendiri, anak mulai mengembangkan rasa otonomi dan independensi. 

  • Inisiatif dan rasa bersalah

Tahap ketiga dalam teori Erikson berlangsung saat usia 3-5 tahun. Saat anak pada usia ini berinteraksi sosial dan bermain dengan orang lain, mereka belajar untuk mengambil inisiatif dan mengambil kendali atas apa yang terjadi. 

Anak-anak yang sukses pada tahap ini akan merasa mampu untuk mengontrol dan memimpin orang lain. Sementara, bagi mereka yang gagal, mereka akan merasa bersalah, ragu pada diri sendiri, dan tidak memiliki inisiatif. 

  • Industri dan inferioritas

Usia 5-12 tahun adalah usia yang melalui tahap ini. Usia ini merupakan usia saat anak-anak memasuki sekolah dasar dan belajar banyak hal baru. 

Ketika anak berhasil mencapai suatu prestasi terkait pelajaran baru yang didapat dari sekolah, mereka akan merasa bangga. Sementara, anak-anak yang tidak berhasil akan merasa rendah diri. Berhasil atau tidaknya anak akan dipengaruhi oleh tuntutan sosial dan akademis di sekitar mereka. 

  • Identitas dan kebingungan

Tahap ini dilalui saat Anda masih remaja, yaitu pada rentang usia 12-18 tahun. Pada tahap ini, Anda menghadapi krisis dan tantangan untuk mengenal diri sendiri dan memaknai apa yang dimaksud dengan diri. 

Karena itulah, pada remaja di tahap ini, Anda mungkin sering mendengar adanya pertanyaan mengenai siapa diri mereka yang sebenarnya dan bagaimana mereka bisa menjadi bagian dari lingkungan sosial. Remaja yang tidak menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut akan merasa tidak yakin dengan diri mereka sendiri. 

  • Keintiman dan isolasi

Tahap ini mungkin dilalui dalam periode yang cukup panjang, yaitu antara 18-40 tahun. Di tahap ini, secara perlahan Anda mulai memahami dan menyadari siapa diri Anda sebenarnya. Semakin yakin Anda dengan diri sendiri, Anda akan semakin siap untuk berbagi hidup dengan orang lain. 

Di tahap ini, Anda akan melewati masa-masa untuk belajar membangun hubungan dan komitmen dengan orang lain. Jika gagal dalam tahap ini, Anda mungkin mengalami kendala dalam membangun hubungan yang langgeng. 

  • Generativitas dan stagnasi

Dilalui saat Anda berusia 40-65 tahun. Di tahap ini, Anda akan memiliki keinginan untuk mempertahankan sesuatu yang ada dalam hidup Anda untuk jangka waktu panjang, seperti berkeluarga dan memiliki anak. 

  • Integritas dan keputusasaan

Setelah melalui usia 65 tahun, Anda akan melalui tahap ini. Tahap ini adalah tahap melakukan refleksi. Anda akan menengok kembali pada tahun-tahun yang telah Anda lalui dan menilai apa yang sudah Anda capai selama ini. 

Pada tahap ini, Anda bisa merasa puas atas apa yang telah dicapai saat muda, ataupun merasa gagal dan kecewa pada diri sendiri. 

Itulah delapan tahap dari teori Erikson mengenai perkembangan psikososial. Dari teori ini, Anda bisa lebih memahami karakter yang terbentuk dalam diri Anda.

7 Cara Mengatasi Anak Malas Belajar

  • November 16, 2020

Pada umumnya kebanyakan orang tua bakal merasa khawatir jika melihat sang anak malas belajar, inilah yang menjadi alasan mengpa orang tua memilih memasukkan anaknya mengikuti bimbingan belajar atau les. Padahal terdapat beberapa langkah yang bisa digunakan sebagai cara mengatasi malas belajar.

Ada penyebab di balik kebiasaan anak yang sering malas-malasan ketika diminta untuk belajar atau setidaknya mengerjakan tugas dari sekolah di rumah. Bahkan dalam tingkatan yang paling tinggi, anak bisa berbohong ketika ditanya mengenai aktivitasnya di sekolah. Mengenali penyebab munculnya masalah ini merupakan hal pertama yang harus diketahui orang tua.

Cara Mengatasi Malas Belajar

  1. Budayakan Membaca

Mengajak anak untuk gemar membaca sedari kecil, inilah yang menjadi kunci tak hanya bagi anak tetapi untuk semua penghuni rumah. Jika anak melihat semua orang melakukan kegiatan membaca, maka akan ada rasa ingin mengikuti hal tersebut, sediakan buku bacaan yang sesuai dengan usia dan yang disukai anak.

  • Membangun Suasana Santai

Suasana menjadi faktor pendukung anak untuk mau belajar, sama seperti orang dewasa ketika bekerja tetapi merasa tidak nyaman dengan suasana tempat. Belajar tak melulu di kamar, bisa juga di ruang tamu hingga area bermain yang nyaman. Ajari anak membaca, menghitung sembari bermain dan ketika anak sudah beranjak dewasa belajar bisa sambil dengan aat peraga.

  • Beri Waktu Istirahat

Berikan anak waktu istirahat, tujuannya memberi momen anak untuk tidak mudah bosan dan hilang minat dalam belajar. Beda ketika belajar di sekolah, selalu usahakan anak istirahat selama setiap satu atau dua jam. Pada umumnya, anak memiliki short attention span atau mudah kehilangan fokus dan merasa bosan, jadi mengatur jangka waktu sangat penting.

  • Ketahui Bidang yang Diminati

Mengerti dan paham dengan minat anak, setiap orang atau anak pasti memiliki minat dan kemampuan yang berbeda. Tak ada yang selalu pandai dalam segala hal, jika para orang tua memahami karakter dan ketertarikan anak, ini akan membantu dalam menghadapi anak belajar di rumah.

  • Pelajari Hal Lain

Setelah orang tua mengetahui minat dari anak, orang tua baru bisa menyusun strategi guna mendorong si anak mempelajari hal lain. Jelaskan pula secara perlahan dan bertahap mengenai pentingnya ilmu untuk anak, apabila si anak mengetahui alasan tepat untuk belajar maka itu akan membuat mereka semakin rajin.

  • Rayakan Prestasi Anak

Beri pujian untuk anak ketika mereka berhasil mencapai sesuatu dari hasil belajar, sedikit pujian bisa membuat anak kembali bersemangat dalam belajar. Jangan terlalu fokus dengan kesalahan padahal anak sudah melakukan hal terbaik untuk orang tua, selain itu hindari mengkritik anak karena itu akan memengaruhi perkembangan mental anak.

  • Berhenti Membandingkan

Cara mengatasi malas belajar pada anak selanjutnya adalah dengan tidak membanding-bandingkan kemampuan anak dengan orang lain, bisa itu teman sekolah atau teman rumah. Anak memiliki kemampuan unik, ada yang sulit belajar dan lama memahami pelajar hingga yang mudah mengert meski tak serius dalam belajar.

Apabila anak masuk dalam kategori sulit memahami pelajaran, setidaknya berikan dia waktu dan kenalkan pada banyak cara untuk belajar. Membandingkan kemampuan anak dengan orang lain bukan solusi terbaik untuk bisa memberi motivasi anak untuk giat belajar. Hal ini justru bisa menjatuhkan mental, bahkan mampu membuat mereka tak mau belajar.