Lindungi Bayi dengan Minyak Telon Plus My Baby

  • Oktober 11, 2021

Memberikan perlindungan ekstra untuk kulit bayi dari gigitan nyamuk atau serangga sangat perlu. Pasalnya, jika hal itu tak dilakukan maka si buah hati bisa lebih rentan mengalami masalah pada kulitnya, seperti bintik kemerahan. Tentu hal itu merupakan sesuatu yang dihindari dan perlindungan ekstra bisa diberikan dengan menggunakan berbagai produk, yang salah satunya adalah minyak telon plus my baby

Produk tersebut dapat diandalkan karena kandungannya terdiri dari kombinasi berbagai minyak, di antaranya ialah minyak kamomil, minyak kayu putih, minyak adas, minyak kelapa, dan minyak sereh. Jika kita ingin cari tahu, sebetulnya lima minyak tersebut pada dasarnya kerap digunakan untuk melindungi kulit si kecil, serta punya segudang manfaat bagi bayi. 

Oleh karena itu, tak salah jika minyak telon plus my baby anda andalkan guna memberikan perlindungan ekstra untuk si buah hati. Sebab, selain bisa melindungi kulit bayi dari serangan nyamuk dan serangga selama delapan jam, ternyata produk tersebut juga bermanfaat untuk menjaga kelembapan kulit dan meredakan perut kembung. 

Kendati demikian, jika anak anda sudah digigit nyamuk atau serangga, sebetulnya anda juga tak perlu panik. Sebab, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan saat situasi tersebut terjadi. Pertama adalah membilas bekas gigitan nyamuk atau serangga pada bagian kulit si kecil. Akan tetapi, pastikan sabun yang digunakan tak mengandung parfum. Saat mencuci bekas gigitan, anda perlu melakukannya dengan lembut. 

Setelah mencuci bekas gigitan, langkah berikutnya ialah mengompres bagian yang habis digigit. Saat melakukan tahap ini, anda bisa menggunakan air dingin dan ulangi proses kompres selama kurang lebih sepuluh menit. Usai langkah itu dilakukan, pemberian minyak atau obat dapat anda lakukan. 

Meski terkesan sederhana, tetapi jangan pernah anda meremehkan gigitan serangga atau nyamuk. Karena kita tahu bisa saja nyamuk yang menggigit adalah penyebab demam berdarah atau bahkan malaria. Oleh karena itu, memberikan perlindungan ekstra untuk si kecil memang penting sebagaimana telah disampaikan di awal artikel. Sehingga, menjadi wajar dan tak salah apabila anda menggunakan minyak telon plus my baby sebagai upaya pencegahan agar si anak tak diserang serangan dan nyamuk. 

Akan tetapi, tentu minyak telon plus my baby bukanlah produk satu-satunya. Sebagai konsumen, anda memiliki hak untuk memilih produk mana yang mesti dipilih dan cocok untuk si kecil. Namun demikian, tentu kita perlu menyadari bahwa sebelum memilih produk, bersikap bijak sangat dikedepankan. Sikap bijak ini paling tidak diterapkan dalam hal mencari tahu lebih dulu manfaat dan kandungan setiap produk. 

Untuk minyak telon plus my baby sendiri, komposisi dari setiap kandungannya, yaitu minyak kayu putih 60,85%, minyak kelapa 27,15%, minyak sereh 2,0%, minyak kamomil 2,5%, dan minyak adas 7,5%. Sementara untuk manfaat setiap kandungannya sendiri bisa kita temukan dengan mudah di internet, nan pada intinya punya banyak manfaat seperti yang telah disinggung di awal. 

Lebih lanjut, meskipun setiap kandungan punya banyak manfaat, tetap saja anda perlu mencari tahu apakah si kecil cocok dengan minyak telon plus my baby atau tidak. Sebab, jika si buah hati ternyata memiliki alergi atau sangat sensitif kulitnya terhadap kandungan dari produk tersebut, maka anda disarankan untuk mencari minyak telon merek lain sebagai alternatif. 

Demikian penjelasan mengenai minyak telon plus my baby. Pada intinya yang ingin disampaikan adalah bahwa memberikan perlindungan ekstra untuk kulit bayi sangat perlu dan tak boleh dianggap remeh. Meskipun gigitan nyamuk atau serangan dapat diatasi, tetapi langkah yang lebih bijak adalah melakukan pencegahan.

Penyebab Anak Muntah dan Mencret yang Harus Diwaspadai

  • September 8, 2021

Anak-anak lebih rentan terkena penyakit karena sistem kekebalan tubuhnya yang tidak sebaik orang dewasa. Salah satu penyakit yang kerap melanda anak-anak adalah muntah dan mencret. Anak muntah dan mencret tidak boleh dianggap enteng karena bisa menyebabkan anak mengalami dehidrasi.

Penyebab Anak Muntah dan Mencret

Anak muntah dan mencret biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri pada daerah pencernaan. Namun untuk memastikannya, Anda perlu membawa anak ke dokter untuk mendapatkan perawatan tepat.

Penyebab anak muntah bisa terjadi karena dehidrasi

Berikut adalah beberapa hal yang bisa menyebabkan muntah dan mencret pada anak.

  1. Virus Gastroenteritis

Virus gastroenteritis atau yang biasa dikenal sebagai muntaber merupakan salah satu penyebab muntah dan mencret pada anak. Tingkat keparahannya dapat berkisar dari sakit perut ringan selama satu atau dua hari disertai diare ringan, hingga diare parah. Lalu diikuti dengan muntah selama beberapa hari atau lebih.

Rotavirus adalah virus paling umum yang menyebabkan gastroenteritis pada anak-anak di Inggris. Adenovirus adalah kelompok virus umum lainnya yang menyebabkan gastroenteritis pada anak-anak. Infeksi adenovirus dan rotavirus lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak.

  1. Keracunan Makanan

Keracunan makanan disebabkan oleh bakteri, virus atau parasit. Mereka bisa masuk ke dalam makanan yang anak makan atau melalui cairan yang kita minum. Ketika kuman yang menyebabkan keracunan makanan masuk ke dalam tubuh, mereka akan racun. Racun itulah yang dapat menyebabkan diare dan muntah.

Siapa pun bisa keracunan makanan, tetapi anak-anak di bawah 5 tahun memiliki peluang lebih tinggi karena sistem kekebalan mereka belum begitu baik dalam melawan kuman.

Bakteri yang bisa menyebabkan keracunan makanan adalah E.coli, salmonella, listeria, campylobacter hingga stafilokokus aureus.

  1. Tipes

Tipes adalah penyakit yang umum terjadi pada di Indonesia, baik anak-anak maupun orang dewasa rentan terkena tipes. Tipes disebabkan karena kurangnya menjaga kebersihan seperti tidak mencuci tangan sebelum makan. Seseorang yang menderita tipes bisa menularkan bakteri melalui tinja dan dapat bertahan selama berminggu-minggu di kotoran.

Selain itu, mengonsumsi makanan dan minum air yang terkontaminasi, makan sayur atau buah yang tidak dicuci bersih juga bisa menyebabkan tipes pada anak. 

Pengobatan Anak Muntah dan Mencret

Saat anak mengalami muntah dan mencret, Anda harus memastikan anak Anda mengonsumsi cukup cairan baik itu ASI untuk bayi dibawah 6 bulan atau air putih. Jangan beri anak Anda obat apa pun untuk menghentikan muntah dan mencret tanpa anjuran dokter.

Anda juga harus mewaspadai tanda-tanda dehidrasi, khususnya pada bayi yang meliputi:

  • Lesu
  • Jarang atau tidak buang air kecil
  • Urin berwarna kuning tua
  • Mulut kering
  • Mata cekung
  • Adanya titik lunak cekung (fontanelle) di kepala bayi
  • Tidak ada air mata saat bayi menangis

Jika bayi mengalami dehidrasi, mereka akan membutuhkan lebih banyak cairan. Jadi tetap jaga asupan cairan baik itu ASI ataupun susu formula pada bayi. Bayi berumur dibawah 6 bulan harus segera mendapatkan penanganan dari dokter, khususnya bagi anak yang mengalami gejala berikut:

  • Mencret tidak membaik setelah 10 hari
  • Dehidrasi
  • Ada darah pada tinja
  • Muntah berwarna hijau

Untuk mencegah anak muntah dan mencret, selalu pastikan anak Anda mencuci tangan setiap kali ingin makan dan setelah dari kamar mandi. Begitu juga dengan Anda atau siapapun yang kontak langsung dengan anak Anda. Pada bayi yang menggunakan botol, maka sterilkan botol dengan alat steril khusus atau rebus botol di air panas.

Normalkah Jika Demam Anak Naik Turun?

Normalkah Jika Demam Anak Naik Turun?

  • Januari 11, 2021

Demam adalah saat suhu tubuh anak Anda lebih tinggi dari biasanya. Suhu tubuh normal sekitar 37,4ºC tapi bisa bervariasi sepanjang hari. Pada anak-anak, suhu lebih dari 38ºC menunjukkan demam, namun tidak selalu menunjukkan penyakit serius. Lalu bagaimana jika demam anak naik turun?

Pada umumnya demam yang membahayakan anak Anda perlu mencapai sekitar 42ºC, yang bahkan bisa merusak otak mereka. Namun hal ini sangat langka. Ketika demam, suhu tubuh anak Anda akan naik dan turun setiap empat jam, berjam-jam atau lebih. Hal ini adalah cara alami tubuh mereka untuk melawan infeksi, sehingga sebenarnya Anda tidak perlu khawatir.

Demam bisa menjadi hal yang sangat menakutkan bagi orang tua, terutama bagi para ayah dan ibu yang baru. Setiap anak pada akhirnya akan mengalami demam, tidak peduli seberapa berhati-hati Anda sebagai orang tua dan penting bagi orang tua untuk mengetahui apa yang harus dilakukan jika hal ini terjadi.

Demam adalah bagian dari respons tubuh untuk membantu melawan infeksi. Banyak virus dan bakteri yang menyebabkan infeksi suka berkumpul pada suhu tubuh, tetapi tidak bekerja dengan baik saat suhu semakin tinggi. Jadi, tubuh melepaskan bahan kimia alami untuk menjadikan demam naik turun dalam upaya membunuh sebanyak mungkin kuman tersebut.

Anak-anak cenderung mengalami demam dan terkadang demam tinggi, bahkan dengan flu biasa karena tubuh mereka melihat kuman ini untuk pertama kali atau kedua kalinya. Akibatnya, mereka memberikan respons yang kuat untuk mencoba dan melawan kuman tersebut melalui demam yang mungkin naik turun.

Sebenarnya tidak selalu perlu untuk mengobati demam. Mungkin Anda disarankan untuk memberikan obat pada anak Anda seperti parasetamol atau ibuprofen, untuk membuat anak Anda lebih nyaman. Hal ini dianjurkan jika anak Anda sengsara atau merasa kesakitan, bukan mengobati demam itu sendiri. Demam tidak berbahaya dan membantu tubuh anak Anda melawan infeksi.

Kapan Anda tidak perlu mengkhawatirkan demam anak Anda, bahkan ketika suhu naik turun? Berikut beberapa hal yang perlu Anda perhatikan:

  • Demam kurang dari lima hari jika tingkah laku anak Anda relatif normal. Anda tidak perlu khawatir jika anak Anda terus bermain-main dan makan serta minum secara normal. (Namun anak ANda mungkin tampak lebih lelah dari biasanya).
  • Suhu hingga 39ºC jika anak Anda berusia 3 bulan hingga 3 tahun, atau hingga 39.5ºC jika anak Anda lebih besar. Temperatur ini termasuk umum, tetapi tidak selalu mengkhawatirkan.
  • Demam ringan jika bayi atau anak Anda baru saja diimunisasi. Hal ini bisa menjadi normal jika berlangsung kurang dari 48 jam.

Kapan Anda harus khawatir tentang demam anak Anda? Anda disarankan untuk menghubungi dokter jika:

  1. Bayi di bawah usia 3 bulan mengalami demam. Demam mungkin satu-satunya respons bayi Anda terhadap penyakit serius. Pada bayi baru lahir, suhu tubuh yang rendah juga bisa menjadi tanda penyakit serius. Hubungi dokter anak Anda jika suhu rektal bayi Anda turun di bawah 36.5ºC.
  2. Demam anak Anda berlangsung lebih dari lima hari. Dokter anak Anda mungkin perlu menyelidiki lebih lanjut untuk penyebab yang mendasari.
  3. Demam anak Anda lebih tinggi dari 40ºC .
  4. Demam anak Anda tidak turun dengan pereda demam.
  5. Anak Anda tidak bertindak sendiri, sulit untuk bangun, atau kurang minum. Bayi yang tidak mengompol setidaknya empat popok per hari dan anak yang lebih tua yang tidak buang air kecil setiap delapan hingga 12 jam dapat mengalami dehidrasi yang berbahaya.
  6. Anak Anda baru saja diimunisasi dan memiliki suhu di atas 38.5ºC  atau demam selama lebih dari 48 jam.
  7. Anda khawatir. Jika Anda tidak nyaman dengan suhu atau penyakit anak Anda, hubungi dokter Anda untuk mendiskusikannya.

Demam yang naik turun pada anak termasuk hal yang sangat normal terjadi, sehingga Anda tidak perlu khawatir jika anak Anda mengalaminya. Jika anak Anda mengalami demam, Anda disarankan untuk mengobservasi anak selama 48 jam sebelum membawanya ke dokter.

Sakit Perut Saat Hamil? Waspada 5 Masalah Ini!

  • Juli 22, 2020

Banyak sekali perubahan-perubahan yang akan terjadi saat hamil, mulai dari bentuk fisik, emosional, hingga keluhan klasik yang seringkali dialami. Keluhan tersebut dapat berupa mual, muntah, pusing, sering buang air kecil, hingga rasa nyeri di area perut yang membuat Anda jadi tidak nyaman. Sakit perut saat hamil sebenarnya adalah hal yang normal terjadi. Namun, Anda tetap perlu waspada, karena bisa saja sakit perut yang terjadi terus-menerus mengindikasikan adanya sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.

Sakit perut saat hamil bisa mengindikasikan masalah serius.

Apabila sakit perut berlangsung lama (30 menit sampai 1 jam) dan terjadi secara terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, maka Anda perlu waspada. Umumnya, rasa sakit perut seperti ini mengindikasikan adanya masalah yang sedang terjadi. Segera cari bantuan medis untuk membantu Anda mengatasinya.

  • Kehamilan ektopik.

Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi di luar rahim, biasanya pada tuba fallopi atau saluran indung telur. Wanita yang berisiko tinggi mengalaminya adalah yang memiliki riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, endometriosis, ligasi tuba, atau terdapat alat kontrasepsi di dalam rahim pada saat terjadi pembuahan. Jika ternyata Anda mengalami kehamilan ektopik, kemungkinan Anda akan mengalami rasa sakit dan pendarahan hebat antara minggu ke-6 dan 10 masa kehamilan. Sangat disayangkan, kehamilan ini tidak dapat diteruskan dan butuh penanganan medis lebih lanjut.

  • Solusio plasenta.

Solusio plasenta merupakan kondisi yang dapat mengancam jiwa Ibu dan janin yang dikandung, sebab plasenta terpisah dari rahim sebelum bayi lahir. Plasenta adalah jaringan yang terbentuk saat hamil dan berperan penting untuk menyalurkan nutrisi serta pembuangan metabolisme janin. Gejala solusio plasenta yang paling umum adalah nyeri terus-menerus hingga perut Anda terasa keras untuk waktu yang lama. Tanda lainnya adalah sakit punggung dan keluarnya cairan berupa darah atau air ketuban. Jika Anda mengalami sakit perut saat hamil seperti ini, segera bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

  • Keguguran.

Keguguran paling sering terjadi pada 13 minggu pertama masa kehamilan. Tanda-tanda keguguran meliputi nyeri punggung ringan hingga berat, kontraksi perut (terjadi setiap 5-20 menit), perdarahan coklat atau merah terang, serta keluar gumpalan berupa jaringan dari vagina. Jika Anda mengalami gejala seperti ini, segera bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan tindakan medis.

  • Infeksi saluran kemih.

Infeksi saluran kemih dapat menimbulkan rasa sakit perut saat hamil, ketidaknyamanan, atau rasa terbakar ketika Anda buang air kecil. Apabila rasa sakit menjalar hingga ke punggung bagian bawah atau di atas tulang panggul, lalu disertai demam, mual, berkeringat, atau kedinginan, maka besar kemungkinan infeksi telah menyebar ke bagian ginjal. Segera cari bantuan medis untuk ditangani lebih lanjut.

  • Preeklampsia.

Preeklampsia adalah suatu kondisi meningkatnya tekanan darah dan protein dalam urin setelah usia kehamilan 20 minggu. Gejala awal yang akan Anda rasakan adalah nyeri perut bagian atas, biasanya di bawah tulang rusuk bagian kanan. Gejala penyerta lainnya seperti mual, muntah, dan tekanan yang meningkat pada perut. Untuk mencegah kondisi ini, rutin periksakan kehamilan ke dokter, sehingga bisa terdeteksi sejak dini.

Itulah 5 indikasi masalah serius yang dapat terjadi apabila sakit perut saat hamil berlangsung lama dan berulang. Penting sekali untuk Anda selalu berhati-hati, terutama saat hamil untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Selalu periksakan kehamilan secara rutin ke dokter untuk memastikan kondisi kehamilan dalam keadaan sehat, tanpa adanya gangguan yang berarti.

Ini Cara Tepat Cukur Rambut Bayi

  • Februari 5, 2020

Bagi kebanyakan orang, rambut yang lebat dianggap dapat membawa kebahagian karena menambah cantik parah di jabang bayi. Namun, rambut tersebut tidak bisa dibiarkan terlalu lama dan harus segera dipangkas. Oleh karena itu Ibu perlu tahu cara cukur rambut bayi yang benar. Menurut kebiasaan yang berlaku di Indonesia, terutama umat muslim, cukup rambut bayi harus bertepatan dengan ibadah aqiqah atau sepekan setelah kelahiran. Pemotongan rambut biasanya disertai dengan perayaan tertentu.

Rambut hasil pencukuran akan ditimbang dan bobotnya dikonversi dengan harga emas. Orang tua di bayi disunahkan untuk bersedekah sesuai dengan nilai konversi timbangan rambut bayinya. Namun, ada juga kebiasaan lain, dimana pemangkasan rambut bayi dilakukan pada hari keempat puluh. Dengan kata lain, bayi baru dicukur setelah berusia satu bulan 10 hari. secara medis, kapan waktu yang lebih tepat untuk mencukur rambut bayi?

Menurut Dr. Rosalina Dewi Roeslani, Sp.A(K), ahli perinatologi dari RS Cipto Mangunkusumo, pada dasarnya, tidak ada waktu khusu kapan rambut bayi harus dicukur untuk pertama kalinya dan boleh dicukur ataupun tidak. Dokter mengatakan rambut pertama bayi, atau dikenal dengan nama velus, akan rontok dengan sendirinya pada bulan-bulan pertama kelahiran. Tanpa dicukur pun, rambut halus tersebut akan rontok pada waktunya.

Dokter Rosalina juga mengatakan rambut manusia akan melewati tiga fase pertumbuhan, yaitu fase tumbuh, fase istirahat, dan fase lepas. Setiap helaian rambut mungkin berbeda pada fase pertumbuhan yang berbeda sehingga nampak ada area kulit kepala yang agak jarang rambutnya, sementara bagian lain tampak lebat. Memotong rambut atau tidak, tidak akan mempengaruhi kecepatan pertumbuhan ataupun membuat rambut tampak lebih tebal.

Namun saat berusia di atas setahun, rambut bayi boleh dicukur sesuai dengan kebutuhan. Contohnya saat rambut sudah terlalu panjang sehingga menutupi mata atau mengganggu penglihatan anak. Saat memotong rambut, pastikan juga keamanan dan kenyamanan anak. Hindari membuat anak ketakutan dan pastikan kebersihan alat yang digunakan seperti gunting, sisir atau pisau cukur. Selain itu, perhatikan kebersihan kulit kepala bayi. Rambut bayi sebaiknya dikeramas dua sampai tiga hari sekali menggunakan sampo khusus bayi.