Normalkah Jika Demam Anak Naik Turun?

Normalkah Jika Demam Anak Naik Turun?

  • Januari 11, 2021

Demam adalah saat suhu tubuh anak Anda lebih tinggi dari biasanya. Suhu tubuh normal sekitar 37,4ºC tapi bisa bervariasi sepanjang hari. Pada anak-anak, suhu lebih dari 38ºC menunjukkan demam, namun tidak selalu menunjukkan penyakit serius. Lalu bagaimana jika demam anak naik turun?

Pada umumnya demam yang membahayakan anak Anda perlu mencapai sekitar 42ºC, yang bahkan bisa merusak otak mereka. Namun hal ini sangat langka. Ketika demam, suhu tubuh anak Anda akan naik dan turun setiap empat jam, berjam-jam atau lebih. Hal ini adalah cara alami tubuh mereka untuk melawan infeksi, sehingga sebenarnya Anda tidak perlu khawatir.

Demam bisa menjadi hal yang sangat menakutkan bagi orang tua, terutama bagi para ayah dan ibu yang baru. Setiap anak pada akhirnya akan mengalami demam, tidak peduli seberapa berhati-hati Anda sebagai orang tua dan penting bagi orang tua untuk mengetahui apa yang harus dilakukan jika hal ini terjadi.

Demam adalah bagian dari respons tubuh untuk membantu melawan infeksi. Banyak virus dan bakteri yang menyebabkan infeksi suka berkumpul pada suhu tubuh, tetapi tidak bekerja dengan baik saat suhu semakin tinggi. Jadi, tubuh melepaskan bahan kimia alami untuk menjadikan demam naik turun dalam upaya membunuh sebanyak mungkin kuman tersebut.

Anak-anak cenderung mengalami demam dan terkadang demam tinggi, bahkan dengan flu biasa karena tubuh mereka melihat kuman ini untuk pertama kali atau kedua kalinya. Akibatnya, mereka memberikan respons yang kuat untuk mencoba dan melawan kuman tersebut melalui demam yang mungkin naik turun.

Sebenarnya tidak selalu perlu untuk mengobati demam. Mungkin Anda disarankan untuk memberikan obat pada anak Anda seperti parasetamol atau ibuprofen, untuk membuat anak Anda lebih nyaman. Hal ini dianjurkan jika anak Anda sengsara atau merasa kesakitan, bukan mengobati demam itu sendiri. Demam tidak berbahaya dan membantu tubuh anak Anda melawan infeksi.

Kapan Anda tidak perlu mengkhawatirkan demam anak Anda, bahkan ketika suhu naik turun? Berikut beberapa hal yang perlu Anda perhatikan:

  • Demam kurang dari lima hari jika tingkah laku anak Anda relatif normal. Anda tidak perlu khawatir jika anak Anda terus bermain-main dan makan serta minum secara normal. (Namun anak ANda mungkin tampak lebih lelah dari biasanya).
  • Suhu hingga 39ºC jika anak Anda berusia 3 bulan hingga 3 tahun, atau hingga 39.5ºC jika anak Anda lebih besar. Temperatur ini termasuk umum, tetapi tidak selalu mengkhawatirkan.
  • Demam ringan jika bayi atau anak Anda baru saja diimunisasi. Hal ini bisa menjadi normal jika berlangsung kurang dari 48 jam.

Kapan Anda harus khawatir tentang demam anak Anda? Anda disarankan untuk menghubungi dokter jika:

  1. Bayi di bawah usia 3 bulan mengalami demam. Demam mungkin satu-satunya respons bayi Anda terhadap penyakit serius. Pada bayi baru lahir, suhu tubuh yang rendah juga bisa menjadi tanda penyakit serius. Hubungi dokter anak Anda jika suhu rektal bayi Anda turun di bawah 36.5ºC.
  2. Demam anak Anda berlangsung lebih dari lima hari. Dokter anak Anda mungkin perlu menyelidiki lebih lanjut untuk penyebab yang mendasari.
  3. Demam anak Anda lebih tinggi dari 40ºC .
  4. Demam anak Anda tidak turun dengan pereda demam.
  5. Anak Anda tidak bertindak sendiri, sulit untuk bangun, atau kurang minum. Bayi yang tidak mengompol setidaknya empat popok per hari dan anak yang lebih tua yang tidak buang air kecil setiap delapan hingga 12 jam dapat mengalami dehidrasi yang berbahaya.
  6. Anak Anda baru saja diimunisasi dan memiliki suhu di atas 38.5ºC  atau demam selama lebih dari 48 jam.
  7. Anda khawatir. Jika Anda tidak nyaman dengan suhu atau penyakit anak Anda, hubungi dokter Anda untuk mendiskusikannya.

Demam yang naik turun pada anak termasuk hal yang sangat normal terjadi, sehingga Anda tidak perlu khawatir jika anak Anda mengalaminya. Jika anak Anda mengalami demam, Anda disarankan untuk mengobservasi anak selama 48 jam sebelum membawanya ke dokter.

Sakit Perut Saat Hamil? Waspada 5 Masalah Ini!

  • Juli 22, 2020

Banyak sekali perubahan-perubahan yang akan terjadi saat hamil, mulai dari bentuk fisik, emosional, hingga keluhan klasik yang seringkali dialami. Keluhan tersebut dapat berupa mual, muntah, pusing, sering buang air kecil, hingga rasa nyeri di area perut yang membuat Anda jadi tidak nyaman. Sakit perut saat hamil sebenarnya adalah hal yang normal terjadi. Namun, Anda tetap perlu waspada, karena bisa saja sakit perut yang terjadi terus-menerus mengindikasikan adanya sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.

Sakit perut saat hamil bisa mengindikasikan masalah serius.

Apabila sakit perut berlangsung lama (30 menit sampai 1 jam) dan terjadi secara terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, maka Anda perlu waspada. Umumnya, rasa sakit perut seperti ini mengindikasikan adanya masalah yang sedang terjadi. Segera cari bantuan medis untuk membantu Anda mengatasinya.

  • Kehamilan ektopik.

Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi di luar rahim, biasanya pada tuba fallopi atau saluran indung telur. Wanita yang berisiko tinggi mengalaminya adalah yang memiliki riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, endometriosis, ligasi tuba, atau terdapat alat kontrasepsi di dalam rahim pada saat terjadi pembuahan. Jika ternyata Anda mengalami kehamilan ektopik, kemungkinan Anda akan mengalami rasa sakit dan pendarahan hebat antara minggu ke-6 dan 10 masa kehamilan. Sangat disayangkan, kehamilan ini tidak dapat diteruskan dan butuh penanganan medis lebih lanjut.

  • Solusio plasenta.

Solusio plasenta merupakan kondisi yang dapat mengancam jiwa Ibu dan janin yang dikandung, sebab plasenta terpisah dari rahim sebelum bayi lahir. Plasenta adalah jaringan yang terbentuk saat hamil dan berperan penting untuk menyalurkan nutrisi serta pembuangan metabolisme janin. Gejala solusio plasenta yang paling umum adalah nyeri terus-menerus hingga perut Anda terasa keras untuk waktu yang lama. Tanda lainnya adalah sakit punggung dan keluarnya cairan berupa darah atau air ketuban. Jika Anda mengalami sakit perut saat hamil seperti ini, segera bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

  • Keguguran.

Keguguran paling sering terjadi pada 13 minggu pertama masa kehamilan. Tanda-tanda keguguran meliputi nyeri punggung ringan hingga berat, kontraksi perut (terjadi setiap 5-20 menit), perdarahan coklat atau merah terang, serta keluar gumpalan berupa jaringan dari vagina. Jika Anda mengalami gejala seperti ini, segera bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan tindakan medis.

  • Infeksi saluran kemih.

Infeksi saluran kemih dapat menimbulkan rasa sakit perut saat hamil, ketidaknyamanan, atau rasa terbakar ketika Anda buang air kecil. Apabila rasa sakit menjalar hingga ke punggung bagian bawah atau di atas tulang panggul, lalu disertai demam, mual, berkeringat, atau kedinginan, maka besar kemungkinan infeksi telah menyebar ke bagian ginjal. Segera cari bantuan medis untuk ditangani lebih lanjut.

  • Preeklampsia.

Preeklampsia adalah suatu kondisi meningkatnya tekanan darah dan protein dalam urin setelah usia kehamilan 20 minggu. Gejala awal yang akan Anda rasakan adalah nyeri perut bagian atas, biasanya di bawah tulang rusuk bagian kanan. Gejala penyerta lainnya seperti mual, muntah, dan tekanan yang meningkat pada perut. Untuk mencegah kondisi ini, rutin periksakan kehamilan ke dokter, sehingga bisa terdeteksi sejak dini.

Itulah 5 indikasi masalah serius yang dapat terjadi apabila sakit perut saat hamil berlangsung lama dan berulang. Penting sekali untuk Anda selalu berhati-hati, terutama saat hamil untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Selalu periksakan kehamilan secara rutin ke dokter untuk memastikan kondisi kehamilan dalam keadaan sehat, tanpa adanya gangguan yang berarti.

Ini Cara Tepat Cukur Rambut Bayi

  • Februari 5, 2020

Bagi kebanyakan orang, rambut yang lebat dianggap dapat membawa kebahagian karena menambah cantik parah di jabang bayi. Namun, rambut tersebut tidak bisa dibiarkan terlalu lama dan harus segera dipangkas. Oleh karena itu Ibu perlu tahu cara cukur rambut bayi yang benar. Menurut kebiasaan yang berlaku di Indonesia, terutama umat muslim, cukup rambut bayi harus bertepatan dengan ibadah aqiqah atau sepekan setelah kelahiran. Pemotongan rambut biasanya disertai dengan perayaan tertentu.

Rambut hasil pencukuran akan ditimbang dan bobotnya dikonversi dengan harga emas. Orang tua di bayi disunahkan untuk bersedekah sesuai dengan nilai konversi timbangan rambut bayinya. Namun, ada juga kebiasaan lain, dimana pemangkasan rambut bayi dilakukan pada hari keempat puluh. Dengan kata lain, bayi baru dicukur setelah berusia satu bulan 10 hari. secara medis, kapan waktu yang lebih tepat untuk mencukur rambut bayi?

Menurut Dr. Rosalina Dewi Roeslani, Sp.A(K), ahli perinatologi dari RS Cipto Mangunkusumo, pada dasarnya, tidak ada waktu khusu kapan rambut bayi harus dicukur untuk pertama kalinya dan boleh dicukur ataupun tidak. Dokter mengatakan rambut pertama bayi, atau dikenal dengan nama velus, akan rontok dengan sendirinya pada bulan-bulan pertama kelahiran. Tanpa dicukur pun, rambut halus tersebut akan rontok pada waktunya.

Dokter Rosalina juga mengatakan rambut manusia akan melewati tiga fase pertumbuhan, yaitu fase tumbuh, fase istirahat, dan fase lepas. Setiap helaian rambut mungkin berbeda pada fase pertumbuhan yang berbeda sehingga nampak ada area kulit kepala yang agak jarang rambutnya, sementara bagian lain tampak lebat. Memotong rambut atau tidak, tidak akan mempengaruhi kecepatan pertumbuhan ataupun membuat rambut tampak lebih tebal.

Namun saat berusia di atas setahun, rambut bayi boleh dicukur sesuai dengan kebutuhan. Contohnya saat rambut sudah terlalu panjang sehingga menutupi mata atau mengganggu penglihatan anak. Saat memotong rambut, pastikan juga keamanan dan kenyamanan anak. Hindari membuat anak ketakutan dan pastikan kebersihan alat yang digunakan seperti gunting, sisir atau pisau cukur. Selain itu, perhatikan kebersihan kulit kepala bayi. Rambut bayi sebaiknya dikeramas dua sampai tiga hari sekali menggunakan sampo khusus bayi.