Bantal Bayi Anti Peyang, Apakah Benar-Benar Efektif?

  • Oktober 8, 2021

Anda sedang bimbang dalam membeli bantal bayi anti peyang? Tak perlu cemas, artikel ini akan membantu Anda membuat keputusan tersebut, khususnya bagi Anda orang tua baru.

Memiliki anak untuk pertama kalinya memang terasa membahagiakan. Anda mungkin mulai mempersiapkan banyak hal seperti perlengkapan mandi dan perlengkapan tidur, termasuk batal bayi.

Bantal anti peyang membantu mencegah kepala bayi berubah bentuk

Bayi baru lahir alias newborn memang perlu mendapatkan perhatian lebih. Tempurung kepala bayi masih lembek, akibatnya bentuk kepala mudah berubah saat tertekan.

Nah kondisi inilah yang mungkin membuat Anda khawatir kepala bayi akan jadi peyang karena tertekan pada satu sisi terus-menerus. Tidak bisa dimungkiri, kondisi tersebut memang sangat mungkin terjadi.

Sebagai langkah antisipasi, Anda mungkin mencoba mencari solusi di internet dan menemukan pembahasan mengenai bantal bayi anti peyang. Masalahnya, apakah penggunaan bantal jenis ini benar-benar efektif?

Penyebab kepala peyang

Sebelum bicara soal bantal bayi anti peyang, ada baiknya Anda memahami terlebih dahulu mengapa bayi bisa mengalami kondisi kepala peyang.

Seperti yang disebut di atas, kepala bayi masih sangat lembut dan mudah dibentuk, sehingga apa pun yang memberi tekanan pada tengkorak dapat menyebabkan perubahan bentuk kepala.

Secara umum, ada dua penyebab kepala peyang pada bayi, yaitu:

  • Menidurkan bayi dengan terlentang di atas kasur yang keras
  • Terlalu lama terlentang di kursi ayun atau di car seat

Ada pula kasus kepala peyang atau kepala datar sejak lahir. Namun, kondisi tersebut biasanya dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari.

Soal bantal bayi anti peyang

Merespons masalah tersebut, diciptakanlah bantal bayi anti peyang yang didesain khusus agar kepala bayi tidak sampai berubah bentuk meski tidur terlentang. Simak rekomendasi bantal anti peyang SehatQ.

Biasanya bantal tersebut dilengkapi dengan lubang di bagian tengah berbentuk donat. Area lubang inilah yang jadi tempat menidurkan kepala bayi.

Namun, perlu Anda tahu, sebenarnya bayi masih belum memerlukan bantal apa pun, khususnya di usia newborn sampai 2 tahun. Faktanya, bantal justru dapat mengganggu kenyamanan dan mengurangi waktu tidur bayi.

Anda tidak perlu khawatir, sebaiknya tidurkan bayi di atas kasur datar tanpa bantal. Pilih kasur khusus untuk bayi, sebaiknya hindari kasur dewasa yang Anda gunakan di rumah.

Anda boleh saja menggunakan bantal peyang, tapi sebaiknya tidak mengharapkan dampak signifikan. Faktanya, bantal peyang mungkin membantu, mungkin juga tidak.

Jika si kecil cenderung aktif bergerak saat tidur, mungkin bantal peyang bukan solusi yang tepat bagi Anda.

Mencegah kepala peyang

Lebih lanjut, daripada bingung memilih bantal peyang, sebaiknya Anda memahami hal-hal penyebab kepala peyang pada bayi dan langkah apa yang perlu dilakukan untuk mencegahnya.

Sederhana, solusi utama mencegah kepala peyang adalah mengurangi semaksimal mungkin waktu bayi terlentang, di antaranya:

  • Beri waktu minimal 30 menit untuk bayi dalam posisi tengkurap atau tummy time
  • Ubah posisi tidur bayi secara bergantian
  • Gendong bayi lebih sering
  • Dudukkan bayi dalam posisi tegak saat memberinya susu formula

Nah itu dia penjelasan mengenai bantal bayi anti peyang dan cara mencegah kepala peyang. Semoga bisa menjadi pertimbangan Anda.

Rasa ASI Bisa Berubah-ubah, Ini Faktor Penyebabnya

Rasa ASI Bisa Berubah-ubah, Ini Faktor Penyebabnya

  • Juni 16, 2021

Tahukah Anda bawa rasa ASI bisa mengalami perubahan? Anda sendiri mungkin tidak tahu rasa dari ASI tersebut. Akan tetapi, bayi bisa merasakan apabila ada perbedaan rasa ketika menyusui.

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan perubahan rasa pada ASI. Ini secara khusus dipengaruhi oleh gaya hidup Anda sebagai sang ibu yang menyusui.

Hal yang mempengaruhi rasa ASI

Bayi yang sensitif bisa mendeteksi perbedaan rasa pada ASI ketika menyusui. Perubahan rasa tersebut akan mempengaruhi kondisi bayi Anda. Pengaruh ini bisa positif, namun bisa juga negatif.

Anda perlu tahu apa saja yang membuat rasa dari ASI menjadi berbeda. Berikut ini hal-hal yang mempengaruhinya:

  • Olahraga

Ketika Anda melakukan olahraga berat di tengah masa menyusui, maka ASI akan mengalami perubahan rasa. Ini terjadi karena adanya penumpukan asam laktat serta produksi keringat yang asin pada payudara. 

Karena itu, di tengah masa menyusui, sebaiknya jangan melakukan aktivitas olahraga yang terlalu berat. Pertahankan olahraga yang ringan atau sedang. 

Selain itu, sebaiknya Anda mencuci payudara terlebih dahulu sebelum menyusui bayi. Ini bisa membantu menghilangkan rasa yang asin akibat keringat. 

  • Konsumsi alkohol

Penelitian telah membuktikan bahwa konsumsi alkohol akan mempengaruhi rasa ASI. Apalagi jika Anda menyusui bayi Anda hanya beberapa saat setelah selesai meminum minuman beralkohol.

Dibutuhkan waktu paling sedikit dua jam bagi alkohol untuk bisa meninggalkan tubuh Anda sepenuhnya. Karena itu, sebaiknya berikan jeda waktu yang cukup lama sebelum memberikan ASI usai meminum alkohol.

  • Kebiasaan merokok

Menurut penelitian, ASI yang diproduksi dari tubuh ibu menyusui yang merokok memiliki rasa yang berbeda. ASI ini cenderung memiliki bau dan rasa asap. 

Karena itu, selama masa menyusui, sang ibu sangat tidak disarankan untuk menerapkan kebiasaan merokok. Kalau Anda masih merokok, sebaiknya berikan jeda waktu sekitar dua jam setelah merokok sebelum memberikan ASI.

Ini bisa membantu meminimalisir bau dan rasa asap pada ASI. Namun, upaya ini tetap tidak bisa menetralkan rasa ASI sepenuhnya. 

  • Hormon

Hormon Anda juga akan mempengaruhi perubahan rasa pada ASI. Perubahan hormon ini bisa terjadi sebagai proses dari pulihnya tubuh setelah menstruasi atau kehamilan. 

Selama masa menstruasi, tidak masalah bagi Anda untuk menyusui. Jadi, meskipun terjadi perubahan rasa pada ASI, namun menyusui di masa menstruasi tidak menimbulkan dampak negatif bagi bayi Anda. 

  • Obat-obatan

Beberapa ibu menyusui mungkin memiliki kondisi medis tertentu yang mengharuskan untuk konsumsi obat-obatan secara rutin. Obat-obatan tertentu bisa mempengaruhi perubahan rasa pada ASI Anda.

Terkadang, perubahan rasa pada ASI akibat obat-obatan dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi bayi. Akibatnya, bayi jadi tidak berselera untuk menyusui. Ini biasanya terjadi apabila Anda baru saja mengonsumsi obat tertentu.

Akan lebih baik kalau Anda bisa berkonsultasi dengan dokter mengenai masalah ini. Pastikan obat yang Anda gunakan tidak mempengaruhi kualitas ASI Anda. 

Itulah beberapa hal yang mempengaruhi rasa pada ASI. Hal-hal di atas sebagian besar berhubungan dengan gaya hidup Anda.

Sebaiknya, selama masa menyusui, Anda membiasakan diri untuk menjalankan pola hidup sehat. Hal ini dilakukan bukan hanya demi kesehatan Anda sendiri, tapi juga kesehatan bayi Anda.

Dengan menjaga pola hidup yang sehat, maka Anda bisa mempertahankan rasa ASI serta kualitasnya. Bayi Anda pun bisa menikmati ASI dengan lebih nyaman.

Ini 5 Dampak Buruk Penggunaan Baby Walker untuk Bayi

Ini 5 Dampak Buruk Penggunaan Baby Walker untuk Bayi

  • Juni 8, 2021

Baby walker adalah alat bantu jalan bayi yang terdiri atas kerangka keras beroda dengan sling untuk membantu bayi agar dapat berada dalam posisi berdiri atau duduk bila bayi jatuh. 

Selain baby walker, ada juga go-cart, standing stool, baby runners, walking stools, dan trainers yang sering digunakan untuk membantu bayi berjalan.  

Beberapa dari orangtua juga menggunakan alat bantu jalan ini untuk aktivitas bermain anak. Namun, penggunaannya ternyata tidak direkomendasikan oleh para ahli, termasuk oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan  American Academy of Pediatrics (AAP),

Hal ini karena baby walker memiliki dampak berbahaya yang bisa menyebabkan kecelakaan. Dampaknya bisa membuat bayi cedera, patah tulang, hingga kerusakan pada kepala dan otak. 

Dalam beberapa artikel yang diterbitkan di situs resminya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dengan tegas melarang penggunaan baby walker sebagai alat untuk membantu bayi berjalan. 

Salah satu alasannya didasarkan pada statistik, yakni terjadi peningkatan tingkat kecelakaan bayi yang menggunakan alat ini dalam dua dekade terakhir dari 64 persen menjadi 86 persen. 

Berikut 5 dampak buruk penggunaan baby walker untuk anak yang wajib kita ketahui sebagai orangtua. 

Berjalan lebih lambat 

Baby walker dipercaya dapat mempercepat proses belajar berjalan pada bayi karena mampu menguatkan otot kaki bayi. 

Anggapan ini tidak benar karena saat berjalan harus ada koordinasi antara mata, tangan, dan kaki. Saat menggunakan alat ini, bayi hanya mendorong badannya sehingga tidak membantu ia berjalan. 

Menurut studi yang dilakukan, bayi yang tidak memakai baby walker tercatat mampu berjalan pada usia rata-rata 10,7 bulan hingga 11 bulan saja. Hal yang mengejutkan adalah, bayi yang menggunakan baby walker justru baru akan bisa berjalan pada usia rata-rata 11,7 bulan hingga satu tahun. 

Kecerdasan motorik anak tidak berkembang 

American Academy of Pediatrics (AAP) sudah mulai menyarankan penghentian penjualan baby walker

Akademi ini mengklaim jika baby walker berbahaya karena memberikan pengaruh buruk pada tingkat pertumbuhan kecerdasan dan psikologis bayi dengan signifikan. 

Bahkan penelitian menunjukkan bahwa bayi yang memakai baby walker justru cenderung membuat pertumbuhan bayi menjadi jauh lebih lambat. 

Risiko terluka dan hilang keseimbangan 

Bahaya penggunaan baby walker dapat menyebabkan kehilangan keseimbangan saat menggunakan alat bantu jalan dan jatuh. 

Hal ini karena bayi bisa bergerak dengan kecepatan tiga kaki per detik saat menggunakan baby walker yang menyebabkan keseimbangannya terganggu. 

Menghambat perkembangan otot 

Menggunakan baby walker juga dapat menghambat perkembangan semua otot yang bayi butuhkan untuk berjalan dan sendiri. 

Menurut Dokter Spesialis Anak, dr. Alan Greene, baby walker memperkuat kaki bagian bawah tetapi bukan kaki bagian atas dan pinggul, yang sangat penting untuk membantu berjalan.

Berdasarkan studi juga menemukan bahwa bayi yang berkembang secara alami (tidak menggunakan baby walker) lebih kuat, lebih stabil, dan lebih percaya diri dalam menggerakan tubuhnya. 

Dengan adanya dampak baby walker ini, orang tua yang memiliki bayi tentu harus mempertimbangkan ulang penggunaan baby walker untuk buah hatinya. 

Cara tradisional dimana bayi dititah dengan kedua tangan sepertinya justru akan lebih efektif dan lebih aman agar Si Kecil segera berjalan. 

Risiko jari kaki terjepit 

Selain terjatuh, risiko lain dari penggunaan baby walker adalah jari bayi bisa terjepit karena berjalan hingga ke sudut ruangan dalam posisi tangan yang keluar dari area meja. Kasus ini juga paling sering terjadi setelah kasus bayi terjatuh dari baby walker. 

Roda pada baby walker akan membuat anak bergerak tanpa arahan, sehingga pengawasan lebih sulit dilakukan. Apalagi jika tiba-tiba anak melaju cepat ke tempat berbahaya seperti tangga. 

Itu dia beberapa dampak berbahaya penggunaan baby walker yang wajib kita sadari sebagai orangtua. Sebaiknya gunakan cara-cara tradisional untuk menguatkan otot-otot kaki Si Kecil, ya. 

Penanganan Alergi pada Bayi Saat Masa MPASI

Penanganan Alergi pada Bayi Saat Masa MPASI

  • Juni 8, 2021

Bagi orang tua yang baru memulai MPASI, penting sekali untuk memilah makanan apa saja yang akan diberikan untuk si kecil untuk pertama kalinya. Pasalnya, MPASI dapat menyebabkan alergi pada bayi. Alergi itu erat kaitannya dengan faktor genetik. 

Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru menganggap protein di dalam makanan sebagai ancaman bagi tubuh. Untuk mengatasi zat protein yang dianggap mengancam tersebut, sistem kekebalan tubuh melepaskan antibodi khusus yang dikenal sebagai immunoglobulin E (IgE). 

Anak juga dapat mengalami gejala alergi melalui ASI, karena sebagian kecil alergen yang dikonsumsi dalam makanan ibu dapat dikeluarkan melalui ASI. Pada kasus ini, antibodi IgE yang telah terbentuk pada ibu ikut terbawa masuk ke tubuh anak sehingga jika anak mengonsumsi makanan tersebut, antibodi IgE bereaksi dan memicu pelepasan zat histamin, yang menyebabkan anak mengalami gejala alergi. 

Sebelum kamu memberikan MPASI kepada si kecil, ada baiknya simak tips berikut ini untuk menghindari atau menangani alergi pada anak saat masa MPASI. Pertama dan paling penting, kamu harus bisa melakukan identifikasi alergi makanan. Kamu dapat menerapkan beberapa kiat berikut:

  • Ketika memberikan jenis makanan baru, lakukan secara bertahap

Berikan satu jenis makanan baru, lalu tunggu setidaknya 3 sampai 5 hari sebelum menambahkan jenis makanan baru dalam menu bayimu. Perhatikan dengan saksama reaksi anak setelah mengonsumsi makanan tersebut

  • Tetap sertakan makanan yang sebelumnya ia konsumsi dan sudah terbukti bebas alergi

Hindari memberikan beberapa jenis makanan baru secara bersamaan karena apabila timbul reaksi alergi pada bayi, maka kamu akan kesulitan mengidentifikasi jenis makanan mana yang memicu alergi. 

Jika anak mengalami reaksi alergi namun kamu mengalami kesulitan untuk mengetahui jenis makanan penyebabnya, langkah selanjutnya adalah dengan berkonsultasi langsung dengan dokter anak untuk evaluasi lanjut, agar dapat dilakukan pemeriksaan terkait untuk mengetahui jenis makanan apa saja yang memicu alergi. 

Hal penting lainnya adalah memberikan suplementasi vitamin dan mineral untuk anak apabila ia tidak dapat mengonsumsi jenis makanan tertentu, sehingga nutrisinya tetap terjaga.

Namun, jika bayi menunjukkan gejala-gejala seperti kesulitan bernafas, pembengkakan pada wajah atau bibirnya, muntah-muntah dengan frekuensi sering dan banyak, atau diare setelah makan, segeralah ke rumah sakit terdekat. Karena reaksi alergi bisa sangat membahayakan dan dibutuhkan tindakan medis sesegera mungkin.

Ciri Alergi Makanan Pada Bayi

Tubuh bayi maupun dewasa memiliki antibodi yang disebut IgE, yang merupakan protein pendeteksi zat makanan yang masuk ke dalam tubuh. Ketika zat makanan tertentu yang menyebabkan alergi masuk, antibodi ini akan melepaskan zat-zat seperti histamin. 

Bayi yang alergi terhadap suatu jenis makanan, bisa menunjukkan gejala yang terlihat di kulit. Gejala ini bisa langsung terlihat tapi bisa juga mengalami jeda waktu lebih dulu. Berikut ini adalah beberapa reaksi alergi pada bayi yang perlu diperhatikan:

  • Perut bayi membesar (kembung), pupnya lebih cair atau mencret, dan buang air lebih sering dari biasanya, tetapi tidak disertai lendir atau darah.
  • Bayi lebih rewel karena rasa tidak nyaman pada organ pencernaannya.
  • Gatal, biduran, atau eksim pada kulit.
  • Batuk.
  • Muntah.
  • Nafas tersengal-sengal.
  • Bibir dan tenggorokan bengkak.
  • Mata bayi tampak merah dan berair.

Jika pemberian MPASI dilakukan dengan benar, risiko alergi pada bayi bisa diminimalisir. Alergi makanan merupakan respons abnormal tubuh terhadap jenis makanan tertentu. Oleh karena itu, jangan sembarangan memberikan MPASI. Ikuti panduan pemberian MPASI di atas untuk mencegah bayimu terkena alergi.

Cara Menggendong Bayi yang Menangis

Cara Menggendong Bayi yang Menangis

  • Juni 7, 2021

Menggendong bayi yang menangis mungkin jadi kekhawatiran Anda sebagai orang tua baru. Ketika si kecil menangis, bagaimana cara menggendong bayi yang tepat supaya tenang?

Anda tentu ingin belajar menggendong di kecil di posisi terbaik. Namun, menggendong newborn tidak bisa dianggap enteng. wajar jika merasa grogi di masa-masa awal.

Ada banyak posisi menggendong bayi yang bisa Anda coba. Salah satunya adalah posisi M-Shape yang terbukti aman untuk perkembangan si kecil.

Biarpun demikian, ada beberapa kondisi yang membutuhkan perlakuan khusus. Misalnya ketika si kecil menangis, bagaimana cara menggendongnya?

Tips menggendong bayi

Perhatikan reaksi bayi ketika Anda menggendong dia. Jika si kecil menangis atau rewel, coba ubah posisi untuk membuatnya nyaman. Anda juga bisa mencoba tips ini untuk membantu bayi tetap nyaman:

  • Usahakan kepala bayi selalu dalam posisi bebas supaya dia bisa bernapas dengan baik
  • Sesekali coba gendong skin-to skin, lepas baju bayi, sisakan popok, gendong dalam selimut.
  • Jika Anda grogi, sebaiknya gendong bayi dalam posisi duduk. Posisi ini juga dapat digunakan oleh orang lain dengan tenaga terbatas.
  • Jangan menggendong bayi saat memasak atau membawa sesuatu yang panas.
  • Jika Anda menggendong bayi dalam waktu lama, coba gunakan support pillow. Juga lakukan hal ini ketika menyusui.
  • Jangan tunjukkan emosi negatif seperti frustrasi atau marah ketika menggendong bayi.
  • Jika ingin membangunkan si kecil, sentuh pipi atau kakinya dengan lembut.
  • Gendong bayi dengan kedua tangan ketika Anda berjalan atau naik-turun tangga.
  • Jangan terlalu sering menggoyang-goyangkan bayi, ini berbahaya untuk kestabilan otaknya.

Cara menggendong bayi ketika rewel menangis

Menariknya, ada teknik menggendong bayi yang dipopulerkan oleh salah Dr. Robert Hamilton. Teknik ini disebut The Holed, yakni memosisikan bayi dalam posisi seperti di dalam rahim.

Teknik ini terbukti sangat efektif untuk menenangkan bayi yang sedang menangis. Berikut langkah-langkahnya:

  • Angkat bayi yang menangis, lipat tangannya berbentuk X di depan dada.
  • Letakkan tangan kanan Anda di lipatan tangan tersebut. Tangan Anda juga harus menopang dagu si kecil.
  • Lalu gunakan tangan kiri untuk menopang bokong bayi. Gunakan bagian telapak, bukan dengan jari-jari.
  • Posisikan bayi dalam sudut 45 derajat dan goyangkan perlahan.
  • Anda bisa bergantian menggoyangkan pantat atau tubuhnya, tapi hati-hati jangan goyang terlalu ekstrem.

Teknik ini cocok sampai usia 3 bulan. Setelah itu, berat badan bayi akan bertambah dan semakin sulit menggendongnya dalam posisi tersebut.

Catatan

Demikian cara menggendong bayi menangis. Teknik The Hold itu sudah terbukti efektif untuk menenangkan si kecil.

Namun, Anda juga perlu mencari tahu apa alasan si kecil menangis. Jika dia merasa lapar atau sakit, menerapkan teknik menggendong yang tepat saja mungkin tidak akan cukup.

Milna Puff Tinggi Kalsium, Alasan Zat Ini Penting

  • Juni 4, 2021

Milna puff merupakan sebuah camilan atau snack yang cocok dikonsumsi oleh anak usia 6 bulan ke atas sebagai MPASI atau makanan pendamping ASI. Camilan ini memiliki rasa keju/apel dan campuran beri/pisang. Salah satu zat yang terkandung di dalam camilan ini adalah kalsium. Seperti yang kita tahu, kalsium merupakan zat penting untuk kesehatan tulang. Kalsium adalah sebuah mineral yang dapat membuat tulang menjadi kuat. Kalsium juga dapat membantu tubuh dalam berbagai macam cara lain, seperti menjaga saraf dan otot untuk tetap bekerja dengan optimal. Selain itu, kalsium juga memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan jantung. 

Kita hanya punya satu kali kesempatan dalam membangun tulang yang kuat saat kita tumbuh dan berkembang. Anak-anak yang mendapatkan asupan kalsium dalam jumlah yang cukup akan tumbuh dewasa dengan tulang yang kuat, mencegah risiko pengeroposan tulang di kemudian hari nanti. Anak-anak dan bayi juga membutuhkan kalsium dan vitamin D untuk mencegah sebuah penyakit yang disebut rakhitis. Rakhitis dapat melunakkan tulang dan menyebabkan tulang bengkok, pertumbuhan yang terhambat, dan terkadang nyeri otot dan otot yang lemah. Milna puff yang tinggi kandungan kalsium dapat membantu memenuhi kebutuhan kalsium harian agar terhindar dari berbagai macam gangguan kesehatan tersebut. 

Kalsium dapat ditemukan di berbagai macam makanan, seperti di Milna puff. Beberapa bahan makanan sangat tinggi kandungan kalsium. Produk dairy atau produk yang terbuat dari susu seperti yogurt dan keju merupakan sumber kalsium alami. Persentase lemak di susu dan produk dairy lainnya tidak memengaruhi kandungan kalsium. Susu tanpa lemak, 1 persen, ataupun 2 persen semuanya memilki kandungan kalsium yang sama. Penyedia layanan kesehatan Anda akan memberitahu Anda jenis susu apa yang tepat dengan kondisi si kecil. Namun, beberapa anak tidak dapat mengonsumsi produk dairy. Oleh karena itu, mereka perlu mendapatkannya dari sumber makanan lain, seperti minuman kedelai yang telah difortifikasi kalsium, tahu yang difortifikasi kalsium, edamame, brokoli, almond, buah ara, dan jeruk. Karena kalsium merupakan sebuah mineral yang sangat penting, banyak produsen bahan makanan sering menambahkannya ke cereal, roti, jus, dan makanan yang baik untuk anak, seperti Milna puff. 

Berapa banyak anak membutuhkan kalsium?

Manusia membutuhkan jumlah kalsium yang berbeda di sepanjang masa kehidupan mereka. Sangat dianjurkan agar anak mendapatkan asupan kalsium dari makanan. Namun, apabila hal ini tidak memungkinkan, penyedia layanan kesehatan dapat merekomendasikan suplemen kalsium. Bayi mendapatkan kalsium dari ASI dan formula. Bayi usia di bawah 6 bulan membutuhkan kalsium sebesar 200 mg per hari, sementara usia 6 hingga 11 bulan membutuhkan 260 mg kalsium per hari. Jenis “susu” yang dibutuhkan oleh bayi adalah ASI dan formula. Jangan pernah memberikan susu sapi, susu kambing, dan formula buatan sendiri untuk bayi di bawah usia 1 tahun. Anak juga akan membutuhkan lebih banyak kalsium saat ia mulai beranjak dewasa, dengan anak usia 1 hingga 3 tahun membutuhkan 700 mg kalsium per hari (dalam 2-3 sajian). 

Bayi mendapatkan asupan kalsium dari ASI dan formula. Snack atau camilan seperti Milna puff juga dapat menjadi penambah asupan kalsium anak. Balita dan anak-anak usia sekolah yang mengonsumsi diet sehat dengan banyak mengonsumsi produk dairy juga sudah cukup mendapatkan asupan kalsium. Konsultasi dengan dokter anak seputar informasi tentang kalsium yang dibutuhkan oleh perkembangan dan pertumbuhan tulang bayi yang optimal. 

Jenis dan Manfaat Material Matras Bayi

  • Juni 3, 2021

Ada banyak tipe matras bayi yang bisa Anda pilih untuk si kecil. Secara umum, Anda bisa menentukan pilihan berdasarkan jenis material dan manfaat material matras bayi.

Matras bayi adalah salah satu perlengkapan terpenting untuk menunjang pertumbuhan si kecil. Faktanya, bayi sebaiknya ditidurkan di matras sampai dia sudah cukup dewasa.

Matras bayi dapat membantu si kecil merangkak dan bermain dengan aman

Memilih matras bayi juga tidak bisa sembarangan. Matras bayi sebaiknya kukuh dan tidak mudah berubah bentuk. Permukaan keras pada matras bayi penting bagi si kecil.

Untuk itu, sebaiknya Anda memahami jenis dan manfaat material matras bayi. Apa saja? Yuk disimak selengkapnya!

Tips memilih matras bayi

Memilih matras bayi tidak bisa sembarangan. Karena itu, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak atau ikuti tips di bawah ini.

1. Pilih ukuran yang tepat dengan ranjang bayi

Biasanya Anda dapat membeli ranjang bayi sekalian dengan matras. Namun, jika Anda harus membelinya terpisah, pastikan ukuran matras sesuai.

Matras yang terlalu kecil berisiko membuat si kecil terjepit di sisi samping.

2. Pilih matras yang kukuh

Anda sebagai orang dewasa mungkin menginginkan kasur yang empuk, tetapi bayi tidak membutuhkannya. Sebaliknya, bayi harus ditidurkan di permukaan rata dan lembut.

Oleh sebab itu, pilih matras yang kukuh, rata, dan suportif. Matras yang sudah berubah bentuk juga sebaiknya tidak digunakan lagi.

3. Pilih matras yang mudah dibersihkan

Sebagian matras menyediakan sprei yang bisa dilepas, sehingga lebih mudah dibersihkan. Namun, jika matras pilihan Anda tidak menawarkan fitur ini, pastikan Anda membersihkannya secara reguler.

4. Pilih material yang tepat

Selain permukaan yang rata dan kukuh, Anda juga perlu memilih material matras yang tepat. Coba pilih material dengan sirkulasi udara yang baik agar si kecil tidak kepanasan.

Lalu apa saja pilihan material matras bayi?

Pilihan material matras bayi

Matras bayi pada umumnya dibedakan berdasarkan material produksinya. Secara umum, ada 5 jenis material matras bayi yang bisa Anda temukan seperti:

Matras Foam (busa)

Material foam atau busa menawarkan matras standar dengan harga murah. Bahan ini paling ringan di antara yang lain dengan penyangga yang baik.

Biasanya matras foam menggunakan bahan yang mudah dibersihkan di satu sisi. Kekurangan dari matras foam adalah bentuknya yang mudah berubah seiring dengan penggunaan terus-menerus.

Plus

  • Ringan
  • Memberikan dukungan yang baik
  • Relatif murah
  • Biasanya mudah dibersihkan

Minus

  • Dengan sprei PVC, bayi mungkin merasa lembap di cuaca panas
  • Bentuk mudah berubah setelah beberapa tahun (sebagai pertimbangan jika mau digunakan untuk anak berikutnya)
  • Kotoran mungkin sulit dihilangkan dari lubang ventilasi

Matras Coil Sprung

Hampir setiap matras klasik menggunakan bahan ini. Matras ini menggunakan pegas di dalamnya, ditutupi lapisan busa atau padding.

Desain ini bagus untuk sirkulasi udara. Pegas di dalamnya pun baik untuk mempertahankan bentuk.

Plus

  • Tradisional, pilihan populer
  • Di cuaca panas, baringkan bayi di sisi cover untuk mencegah kelembapan

Minus

  • Lebih mahal dari matras foam
  • Lebih nyaman, tapi sulit dibersihkan

Matras Pocket Sprung

Mirip dengan coil sprung, perbedaannya terletak pada kantong yang menyelimuti pegas. Matras jenis ini cukup mahal, tapi menawarkan kualitas baik.

Plus

  • Dukungan sangat baik
  • Tahan lama

Minus

  • Lebih mahal
  • Mungkin cukup mahal, kecuali Anda ingin membeli satu kali untuk anak-anak berikutnya

Matras double-sided

Produsen matras juga mempertimbangkan perkembangan si kecil. Pilih matras double sided atau dua sisi. Satu sisi untuk balita, sisi lainnya ketika si kecil sudah lebih besar.

Plus

  • Memberikan dukungan yang sangat baik pada tahun-tahun awal si kecil
  • Sangat tahan lama
  • Bisa mempertahankan bentuk dengan baik

Minus

  • Lebih mahal

Matras organik 

Matras ini dibuat dari bahan kimia dan bahan alami yang bebas alergen, misalnya dari bambu. Pilihan bahan ini baik untuk mencegah alergi.

Plus

  • Pilihan bagus jika Anda khawatir dengan bahan sintetis atau bahan kimia yang bisa memengaruhi si kecil
  • Salah satu pilihan yang paling kukuh, sehingga tahan lama dan bisa mempertahankan bentuk dengan sangat baik

Minus

  • Paling mahal di antara pilihan lainnya
  • Tidak banyak tersedia

Catatan dalam memilih matras bayi

Pada umumnya, hampir semua matras bayi dilapisi kain tahan air di satu sisi. Seharusnya kain ini bisa dilepas, tapi tidak semuanya demikian. Karena itu, pastikan Anda membersihkannya secara rutin.

Selain itu, ketika Anda membeli matras, biasanya Anda juga akan mendapatkan pilihan sprei. Ada sprei anti-jamur, anti-alergi, anti-bakteri, organik, dan banyak jenis lainnya.

Sebaiknya Anda memahami jenis dan manfaat material matras bayi. Lalu tentukan pilihan berdasarkan kondisi si kecil dan harga yang ditawarkan.

Rekomendasi Krim Pencegah Ruam Popok pada Bayi

Rekomendasi Krim Pencegah Ruam Popok pada Bayi

  • Mei 27, 2021

Ruam popok pada bayi adalah bentuk umum dari radang pada kulit (dermatitis) yang biasa terjadi pada pantat bayi. Ruam popok pada bayi sering diakibatkan karena popok basah, popok jarang diganti, kulit bayi sensitif dan lecet. 

Salah satu cara untuk mencegah timbulnya ruam popok pada bayi adalah dengan menggunakan krim atau salep secara teratur. 

Berikut adalah rekomendasi krim pencegah ruam popok pada bayi yang bisa Anda gunakan.

1. Cussons Baby Protect Care Diaper Rash Cream

Penggunaan popok yang terlalu ketat, menggunakan popok yang basah dalam waktu yang lama serta menggunakan popok merek tertentu dapat membuat kulit bayi yang lembut menjadi teriritasi dan muncul ruam popok berwarna kemerahan. Untuk membantu melindungi kulit dari ruam popok pada bayi, Anda bisa menggunakan Cussons Baby Protect Care Diaper Rash Cream, yang mengandung Zinc Oxide, zat pelindung yang lembut, Allantoin yang melindungi kulit dan anti iritasi dan Witch Hazel Extract untuk mengurangi gatal dan iritasi yang disebabkan oleh penggunaan popok.

Krim ini juga dermatologically tested yang sudah lulus uji dokter kulit, memiliki pH seimbang serta cocok digunakan untuk kulit sensitif dan penggunaan sehari-hari. Anda bisa mendapatkan krim ini dengan harga Rp 16.920 untuk ukuran 50 gram.

2. My Baby Diaper Rash Cream

Krim yang mengatasi ruam popok pada bayi dari My Baby ini memiliki formula yang lembut dan teruji klinis melindungi kulit sensitif bayi dari kemerahan akibat ruang popok, udara panas serta bakteri penyebab iritasi. Krim pencegah ruam popok pada bayi ini mengandung Zinc Oxide, Lidah Buaya dan Multivitamin (A, E, F, B5). 

3. Pigeon Baby Diaper Rash Cream

Pigeon Baby Diaper Rash Cream mengandung astor Oil, Zinc Oxide dan ekstrak Chamomile yang diklaim dapat membantu melindungi kulit bayi dari ruam popok atau kemerahan karena iritasi ringan. Pigeon Baby Diaper Rash juga diperkaya dengan ekstrak Jojoba untuk membantu kulit bayi tetap lembut. Anda bisa mendapatkan Pigeon Baby Diaper Rash Cream ini dengan harga Rp 18.300 untuk ukuran 60 gram.

4. Sleek Baby Antibacterial Diaper Cream

Pencegah ruam popok pada bayi dari Sleek ini mengandung antibacterial alami dengan pH 5.5 yang efektif untuk mencegah dan mengatasi ruam popok pada bayi. Formulanya aman dan teruji klinis, serta tidak menimbulkan reaksi alergi. Anda bisa mendapatkan Sleek Baby Antibacterial Diaper Cream dengan harga Rp 39.000 untuk ukuran 80ml.

5. Baby Sebamed Baby Diapers Rash Cream

Krim pencegah ruam popok pada bayi ini diklaim mampu meringankan diaper rash atau ruam popok sekaligus menjaga kulit. Krim ini juga mengandung panthenol yang membantu menyembuhkan luka dan membantu regenerasi kulit. Anda bisa mendapatkan Baby Sebamed Baby Diapers Rash Cream ini dengan harga Rp 130.000 untuk ukuran 100 ml.

6. Bambi Baby Diaper Rash Cream

Krim pencegah ruam popok pada bayi dari Bambi ini diklaim memiliki formula yang lembut dan halus sehingga membuat bayi terasa segar dan nyaman. Selain itu Bambi Baby Diaper Rash Cream juga mengandung Zinc Oxide dan Anti Irritant Complex yang mampu melindungi kulit bayi dari iritasi ringan. Bambi Baby Diaper Rash Cream merupakan hipoalergenik dan telah teruji dermatologis serta sesuai untuk kulit sensitif. Anda bisa mendapatkan Bambi Baby Diaper Rash Cream dengan harga Rp 41.600 untuk ukuran 300 gram.

cara menghilangkan cegukan pada bayi

Cara Menghilangkan Cegukan pada Bayi, Manakah yang Aman?

  • Mei 20, 2021

Cegukan merupakan suatu kondisi yang sering terjadi dan dialami oleh hampir setiap orang, begitu juga dengan bayi. Dalam dunia medis, cegukan dikenal dengan istilah singultus, yaitu kondisi di mana diafragma mengejang atau berkontraksi secara tiba-tiba di luar kendali. Saat kontraksi terjadi, pita suara menutup hingga menimbulkan suara cegukan. Walaupun cegukan biasanya hilang dengan sendirinya, tetapi cegukan akan sangat mengganggu, terutama jika dialami oleh si kecil yang masih bayi. Makanya, kamu perlu tahu cara menghilangkan cegukan pada bayi.

Sebenarnya, bayi yang mengalami cegukan itu hal yang wajar, sehingga kamu tidak perlu terlalu khawatir. Namun, jika cegukannya saat tidur, kamu perlu memerhatikan beberapa hal agar tidak salah kaprah ya. Sebelum mengetahui cara mengatasi cegukan, sebaiknya kamu mengetahui penyebab kenapa bayi cegukan saat tidur dan cara menghilangkan cegukan pada bayi.

Kenapa Bayi Cegukan?

Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa bayi cegukan saat tidur? Kondisi ini memang kurang umum terjadi, tapi bisa saja bayi mengalaminya akibat kondisi tertentu. Untuk mengetahui kenapa bayi cegukan saat tidur, kamu juga perlu tahu jika cegukan yang normal biasa terjadi saat si kecil menyusu terlalu cepat sehingga menyebabkan lebih banyak udara yang masuk melalui mulut. Udara ini yang nantinya terjebak di dalam perut dan gas akan naik ke atas dan mendorong diafragma untuk berkontraksi sehingga menyebabkan bayi cegukan. Solusi yang umum dilakukan agar si kecil berhenti cegukan adalah dengan menyendawakannya sesaat setelah selesai menyusu. Hal ini agar udara dari perut bisa keluar dan risiko bayi cegukan ataupun keluhan lainnya dapat berkurang.

Penyebab Kenapa Bayi Cegukan Saat Tidur

Jika penyebab bayi cegukan saat terjaga memang umum terjadi, lalu kenapa bayi cegukan saat tidur? Apakah kondisi ini normal atau justru berbahaya? Berikut adalah beberapa faktor yang bisa jadi penyebab kenapa bayi cegukan saat tidur:

Kondisi Medis Tertentu

Alasan kenapa bayi cegukan saat tidur bisa karena bayi mengalami penyakit kronis, yang berpengaruh pada saraf yang mengontrol otot diafragmanya. Sebagai contoh penyakit tersebut antara lain tumor, gondok, pneumonia, pleuritis, laryngitis, refluks gastrointestinal, cedera otak, dan multiple sclerosis. Untuk mengatasi bayi cegukan dengan adanya riwayat penyakit, sebaiknya kamu langsung berkonsultasi dengan dokter anak agar dilakukan penanganan secara tepat.

Gangguan Tidur Apnea

Apnea merupakan gangguan tidur yang membuat penderitanya berhenti bernapas sementara selama beberapa kali ketika sedang tidur. Itulah sebabnya, gangguan tidur apnea ini bisa jadi salah satu alasan kenapa bayi cegukan saat tidur lho. Menurut perkiraan para ahli, apnea dapat menyebabkan tubuh menjadi kekurangan oksigen. Saat bayi mengalami apnea, otak tidak memperoleh sinyal dari otot-otot pernapasan atau tenggorokannya akan terhambat sementara. Akibatnya, bayi pun terserang cegukan saat tidur.

Perubahan Tekanan Darah

Menurut informasi yang tercantum di dalam Journal of Applied Physiology, tekanan darah yang mengalami perubahan dapat menjadi penyebab kenapa bayi cegukan saat tidur. Di samping itu, pola pernapasan yang tidak normal juga bisa menjadi pemicu bayi cegukan ketika sedang tidur.

Penyakit Metabolisme

Beberapa penyakit yang berkaitan dengan metabolisme disebut juga bisa jadi pemicu kenapa bayi cegukan saat tidur, misalnya penyakit diabetes, ketidakseimbangan elektrolit, serta gangguan ginjal.

Hal yang Perlu Dihindari Saat Bayi Cegukan

Tahukah kamu, ternyata masih banyak lho mitos yang dilakukan ketika bayi cegukan saat tidur, padahal hal tersebut salah dan harus dihindari. Oleh karena itu, ada beberapa mitos yang tidak boleh dilakukan supaya tidak salah kaprah:

  • Membuat si kecil kaget atau membuatnya takut supaya cegukan berhenti
  • Menekan dahi bayi saat cegukan 
  • Menarik lidah bayi
  • Meletakkan kain basah di dahi bayi
  • Kondisi yang Perlu Diwaspadai

Seperti yang diketahui, penyebab umum kenapa bayi cegukan bisa diatasi sendiri saat di rumah. Namun, bagi bayi yang memiliki riwayat medis tertentu, cegukan bisa mengganggu pernapasan hingga menimbulkan risiko berbahaya. Ada beberapa kondisi yang perlu diwaspadai, di antaranya:

  • Perhatikan apakah bayi cegukan disertai dengan batuk, upaya meludah, dan rewel atau tidak? 
  • Bayi terlalu sering cegukan atau terjadi terus-menerus hingga usianya 1 tahun ke atas
  • Cegukan berlangsung dengan durasi yang sangat lama
  • Cegukan terlihat abnormal
  • Bayi cegukan disertai sesak napas

Apabila bayi mengalami kondisi-kondisi di atas, maka sebaiknya segera konsultasikan kepada dokter ya. Dikhawatirkan kondisi tersebut merupakan gejala dari suatu penyakit serius. Supaya tidak terlambat dan tahu cara menghilangkan cegukan pada bayi.

Gejala Down Syndrome dan Bayi Jarang Menangis

Gejala Down Syndrome dan Bayi Jarang Menangis

  • Mei 12, 2021

Menangis adalah komunikasi wajar bagi tiap bayi. Justru ketika bayi jarang menangis, Anda patut curiga ada suatu masalah dalam diri sang buah hati. Pasalnya, beberapa penyakit terkait fisik dan mental berpengaruh ke seberapa sering bayi mengeluarkan tangisan. 

Down syndrome adalah salah satu masalah kesehatan yang bisa menyebabkan gejala bayi jarang menangis. Sindrom ini terjadi ketika seseorang mengalami kromosom abnormal. Umumnya pada bayi, down syndrome terjadi karena adanya kelebihan produksi kromosom 21 yang mempengaruhi pertumbuhan fisik dan mentalnya. 

Banyak gejala down syndrome yang bisa Anda tangkap dari seseorang masih berusia sangat dini, bahkan ketika ia masih bayi. Berikut ini adalah beberapa gejala sindrom ini yang patut Anda waspadai ada tidaknya pada diri buah hati Anda. 

Wajar Datar 

Wajah manusia pada umumnya memiliki banyak lekukan. Di mana di bagian mata mungkin akan terlihat mencekung, lalu di bagian hidung akan terlihat tonjolan. Sementara di bagian bibir, ada yang memiliki bibir tipis maupun tebal. Namun pada bayi down syndrome, fitur wajah mereka relatif datar. Di mana antara mata, hidung, sampai mulut tidak ada perbedaan yang cukup signifikan dari sisi volume dan ketebalan. Tidak jarang, banyak orang salah mengira bahwa bayi down syndrome hanyalah bayi yang memiliki hidung sangat pesek atau bibir sangat tipis. 

Kepala dan Telinga Kecil 

Inilah pentingnya selalu mengukur llingkar kepala bayi pada masa tumbuh kembangnya, setidaknya sampak usia 2 tahun. Pasalnya, salah satu gejala down syndrome adalah memiliki ukuran lingkar kepala yang kecil. Ukuran yang mini juga bisa didapati di bagian telinga. Di mana telinga bayi down syndrome juga sangat tipis dan hampir tidak memiliki daun. 

Leher Pendek 

Gejala lain dari down syndrome yang mudah ditangkap mata adalah leher yang pendek. Biasanya, leher pendek pada bayi erat dikaitkan dengan berat badan yang berlebih sehingga menyebabkan batang leher sulit terlihat. Namun pada bayi down syndrome, bayi dengan berat badan kurus pun bisa memiliki leher yang pendek. Leher pendek pada bayi down syndrome pun sangat khas karena batangnya menjadi sangat tipis hingga bagian kepala hampir menempel ke bahu. 

Jarang Menangis 

Bayi dengan down syndrome pada awalnya cenderung terlihat sangat tenang dan menenangkan. Bagaimana tidak, bayi jarang menangis sehingga Anda pun tidak perlu repot-repot untuk sering menimang dan menenangkannya. Namun hati-hatilah, kondisi bayi jarang menangis inilah yang sebenarnya menjadi tanda bahwa ada masalah pada kesehatan si kecil. 

Mata Miring 

Gejala lain dari bayi down syndrome bisa dilihat dari bagian matanya. Di mana anak-anak dengan sindrom ini kerap memiliki mata yang miring sebelah. Salah satu mata penderita down syndrome biasanya akan miring ke atas sehingga membuat area mata menjadi tidak simetris. Bagian yang miring adalah keseluruhan mata, bukan hanya pada bagian bola matanya. Jadi, ini berbeda dengan juling. 

Bintik Kecil di Mata 

 Masih di bagian mata, gejala down syndrome pada bayi juga bisa dilihat dari bagian bola matanya. Bola mata bayi down syndrome umumnya memiliki bintik kecil berwarna putih. Dalam dunia medis, bintik ini dikenal sebagai brushfield. Bintik kecil ini bisa hanya menjangkau salah satu bola mata atau bahkan di kedua mata sekaligus. 

Jari Tangan Pendek 

Jari tangan bayi dengan down syndrome umumnya sangat pendek-pendek. Normalnya, ukuran jari tangan adalah sepanjang telapak tangan. Namun pada bayi yang memiliki kasus down syndrome, panjang jari bahkan bisa hanya setengah dari panjang telapak tangan. 

Dislokasi Pinggul 

 Bayi-bayi dengan down syndrome kerap mengalami keterlambatan tumbuh kembang, entah untuk berbalik, duduk, maupun berjalan. Salah satu penyebabnya karena bayi dengan sindrom ini kerap mengalami dislokasi di bagian pinggul yang membuat bagian tubuhnya tidak simetris. 

Jadi, jika bayi jarang menangis dan ada tanda-tanda lain yang mengarah ke down syndrome, jangan ragu untuk memeriksakan si kecil ke dokter. Penanganan yang lebih cepat dan tepat akan membuat kualitas hidup bayi bisa lebih baik di waktu mendatang.